Kamis, 19 Agustus 2010

CerpenKu.....

What....Tinggal Satu Atap


Siang ini kelasku ”ketiban rezeki”, Pak Rudi guru Bahasa Inggris yang super duper killer nggak ngajar yak karena alasan sakit. Tuhan masih memberkatiku tentang hal ini ya secara kemampuan otakku yang pas-pasan dan Bahasa Inggrisku yang blepotan. Lina, sobatku terus menggerutu karna pelajaran tercinta tak dapat diisi, di sisi lain di sudut kelas ada geng WHO (Windy, Helen, Ocha) heboh ngerumpiin siswa baru di kelas sebelah, namanya terdengar samar olehku tapi yang pasti melihat respon WHO yang heboh siswa baru itu pasti cowok. Sedangkan aku sendiri sibuk berkutat dengan ipodku sembari memasang headphone.
Yumi,,Yumi,, panggil Lina menyadarkanku dari kehanyutan lagu Switchfoot this is home yang terdengar melankolis di telingaku. Mendengar suara Lina memanggilku kemudian aku terhenti menikmati lagu itu dan melepaskan headphone yang melekat pada kepalaku. “ Ada apa sih Lina? Ga tau orang asyik nie ! aku sedikit tertanggu dengan panggilan Lina padaku “ Yaa ampuuuuuun Yumi… Yumita Naraya Silia Wijaya Putri, bell udah bunyi dari 10 menit lalu, kamu nggak pulang, “tegur Lina dengan suara lantang padaku. Ya mau gimana lagi Lina gak mungkin pulang tanpaku ,he…he…seperti biasa dia sobatku terbaik buat di tebengin pulang mungpung irit ongkos. Tiba di rumah aku tidak seperti biasanya melihat mobil mama terpakir di garasi padahal sekarang masih jam 2 siang mama seharusnya belum tiba dari cliniknya. Perlahan aku membuka pintu rumah, aku melihat sesosok lelaki berseragam putih abu duduk di ruang tamu. Tiba-tiba mama datang menghampiriku dengan membawa nampan berisikan minuman dingin dan sedikit cemilan, “mama tau aja aku ini kehausan” tapi gubrakkkk mama menyuguhkan bukan buat aku tapi orang yang di ruang tamu. Aku berjalan mendekat menghampiri mama dan orang itu, mama memperkenalanku dengan orang itu namanya Raka teman anaknya mama pindahan dari kota Zurich, Switzerland itu tempat yang terdapat museum Swiss National Museum atau Kunsthaus, salah satu museum terkenal di di dunia. Tapi kenapa dia pindah ke Indonesia padahal yang ku tahu betapa Bahnhofstrasse salah satu jalanan yang dipenuhi toko-toko paling indah di Eropa dipenuhi dengan kafe, toko barang antik dan butik. ”Yumi, kali ini kamu Raka bakalan satu sekolah denganmu karna orang tuanya harus pindah-pindah negara sebagai dubes Indonesia makanya Raka milih Indonesia dia juga jago lho bahasa inggris kamu bisa belajar darinya” ungkap mama panjang lebar padaku. Jadi intinya aku harus satu sekolah dengan Raka dan ia bakalan tinggal di satu atap, wah…bakalan ada tambahan penghuni ni di rumahku ada papa, mama, aku, Mas Awan and Raka.
Begitu sampai di kamar dan membuka pintu, aku langsung melempar tasku. BRUKKK kali ini aku mendarat di kasur empuk ungu mudaku dan pendaratanku selamat. Aku berbaring di kasur dan terpantul-pantul sekian detik sampai akhirnya aku tertidur. Keesokan harinya What,,,,kata mama aku harus berangkat dengan Raka ke sekolah aduhhhh…nyebelinn. Tepat di depan gerbang rumah sudah terpakir mobil jazz berselimut warna biru dan entah siapa pemiliknya setahuku mama ataupun papa gak membeli mobil baru, mas Awan udah berangkat dengan harleynya entah kemana, apa tetangga sebelah kali ya…yang salah parkir buat orang jadi sulit ke luar rumah aja tu mobill. Pi eTssssss Raka menggerakkan kakinya mendekati mobil itu dan Kliiiiiic….bunyi itu terdengar dari mobil itu. Upss…ternyata bukan tetangga sebelah yang salah parkir tapi orang Zurich alias Raka. “Cumi,,,,buruan naek Raka berteriaKK ke arahku!” Aku melihat ke kanan kiri dan kebelakang penasaran siapa sih yang dipanggil Raka pi gak ada orang. “Lho kok binggung sih iya kamu,Cumi,” sentak Raka memecah keheningan pagi. Whattt…Raka maksud panggilannya Cumi itu aku. Kemudian aku mendekat dengan muka memerah dan berkata dengan suara minor “maksud kamu Cumi aku? Aduhhha, dasar namaku itu Yumi bukan cumi taoKKK” Pi dengan santainya Raka berkat lebih gampang panggil kamu cumi daripada yumi, cumikan bagus tu enak di denger trusss bikin orang lapar. “Enak aja cumi kamu kira aku hewan laut apa panggil cumi, nama uda bagus-bagus di permak ! tau huruf and baca gak sih beda kali nyebut Y ma C mungkin gara-gara terlalu lama pindah-pindah dari negara satu dan negara laen lupa kali ya,” suara minorku kembali menggelegar. AduHHH ni orang nyebelin banget sih pake satu sekolah lagi denganku untung gak satu kelas sepertinya WHO bakal kecewa deh liat Raka cowok nyebelin ini. Dalam kedipan mata Raka uda jadi idola aja di sekolah bagi kaum-kaum cewek terutama WHO uh baru liat Raka lewat aja di depan kelas heBoohnya minta ampun. Belum lagi temen-temen yang tau aku tinggal serumah dengannya pasti ada yang nitip suratlah, coklatlah dan beberapa benda berselimut kertas yang berbentuk hati segaLa gak jelas gitu isinya GJ bngetttt, belum lagi kalo mereka Tanya gimana Raka, punya pacar gak, baek gak, cool gak uduh udaH gak tenang ni hidupku sejak kedatangan Raka.
Bell pelajaran terakhir berbunyi….seperti biasa aku masih menetap di kelas bersama 5 orang teman yang lain buat pelajaran tambahan memperbaiki nilai ulangan bahasa inggrisku yang buruk. Pi ketika usai aku berjalan menyusuri lorong sekolah sambil melihat ke parkiran tampak samar-samar cowok berdiri memegang bola basket di kedua tangannya bersandar di mobil biru dan Domb itu Raka yang sedang menungguku. “Lama bangettt sih mati kering ni aku disini nunggu kamu cumi,”bentak Raka padaku. Tapi aku hanya bisa menjawab polos dengan satu kata “maaf”. Di dalam mobil kuletakkan semua barang-barang pemberian cewek-cewek yang ngefens sama Raka. Aku duduk dan selama perjalanan 30 menit ke rumah hanya terdiam dan Raka menghilangkan keheningan memutar lagu Alexandre Desplat yang membuatku tertidur. Membuka mata terlihat foto Aku dan Lina terlihat tepat di atas meja belajar yang terletak di depan kasur unguku. Tak terasa hari telah sore, aku bertanya pada bik Nuni yang menggotongku ke kamar itu Raka karna dia liat aku tertidur lelap dan malamnya aku memberanikan diri meminta Raka mengajariku Bahasa Inggris dan ternyata dia baek juga mau mengajariku pi masih tetep sikapnya manggil aku dengan sebutan cumi gak ilang-ilang. Uduh gimana ni renungku di atas kasur unguku melihat ke jendela yang menyambut dengan suasana malam yang sunyi kok aku jadi jantungku jadi berdetup kencang ya kalo sama Raka.
Harus jalan sekolah sama-sama ni di perjalanan dia memutar sebuah kaset kemudian terdengar lagu Bryam Adams I’ll always be right there etss tapi ada ada suara tambahan terdengar di situ “tes..tes...hei cumi lagu ini khusus buat kamu aku mau bilang kalo aku suka denganmu” terdengar suara Raka yang membuat keheningan sekejap di mobil. Mendengar kata itu membuatku menangis karna selama ini Raka ternyata baek padaku nungguin aku yang pulang telat, ngajarin bahasa inggris and ngegotong aku yang tertidur. Raka menepikan mobilnya sekarang Raka memegang dahiku, kemudian tangannya bergerak turun ke pipi dan mengusap air mataku. Mukanya terlihat sangat jelas di mataku dan Raka berkata “maukah kamu menerimku,cumi?” Aku diam sejenak perlahan bibirku mengucapkan “gak” maksudku gak bisa menolak. Aku dan Rakapun jadian gak ada lagi yang nitip surat cinta, coklat kek buat Raka. Trus Raka menyebut Venesia tempat yang akan ditujunya denganku buat liburan dengan gondola di kanal-kanal yang jadi perjalanan terindah kami. Nila

Tidak ada komentar:

Posting Komentar