Jumat, 20 Agustus 2010


Something about Love
By : David Archuleta

Every night it’s all the same
You’re frozen by the phone
You wait, something’s changed
You blame yourself every day
You’d do it again
Every night

There’s something ’bout love
That breaks your heart
Whoa oh oh oh
It sets you free


There’s something ’bout love
That tears you up
Whoa oh oh oh
You still believe
When the world falls down like the rain
It’ll bring you to your knees
There’s something ’bout love that breaks your heart
Whoa oh oh oh…
But don’t give up
There’s something ’bout love

When you were young
Scared of the night
Waiting for love to come along
And make it right
Your day will come, the past is gone
So take your time
And live and let live

There’s something ’bout love
That breaks your heart
Whoa oh oh oh
It sets you free

There’s something ’bout love
That tears you up
Whoa oh oh oh
You still believe
When the world falls down like the rain
It’ll bring you to your knees
There’s something ’bout love that breaks your heart
Whoa oh oh oh…
But don’t give up
There’s something ’bout love

Don’t fight
Don’t hide
Those stars in your eyes (in your eyes)
Let em’ shine tonight
Let em’ shine tonight
http://liriklagu-top.blogspot.com

Hang on
Hang in
For the ride of your life
It’s gonna be alright
Hold on tight

There’s something ’bout love
That breaks your heart
Whoa oh oh oh

There’s something ’bout love
That breaks your heart
Whoa oh oh oh
It sets you free

There’s something ’bout love
That tears you up
Whoa oh oh oh
You still believe
When the world falls down like the rain
It’ll bring you to your knees (to your knees)
There’s something ’bout love that breaks your heart
Whoa oh oh oh…
But don’t give up
There’s something ’bout love

Whoa oh oh oh..
Set’s you free
There’s something bout love
That tears you up
Whoa oh oh oh
You still believe
When the world falls down like the rain

Si “Rumput” Yang Dicari-Cari
Makanan agar-agar, produk kosmetik dan olahan makanan rumput laut yang ada ketahui, taukah dari mana asalnya???
Pagi itu jam telah menunjukkkan pukul 10.00 WITA, saya tiba di  desa Jungutbatu bagian dari Pulau Lembongan, Klungkung. Menempuh perjalanan 40 menit dengan menggunakan boat dari pantai Sanur. Berlabuh di desa Jungutbatu tanpa dermaga mata saya memandang birunya laut, terubu karang, pesisir pantai dengan pasir putih.
Berjalan di pesisir pantai hamparan rumput laut beralaskan terpal biru dengan mudah dijumpai disana. Tanaman berwarna hijau dan merah itu memutih dijemur di tengah teriknya matahari menyengat pulau itu. Pria paruh baya dengan kulit kecoklatan mengungkapkan “ Sebagian besar penduduk di sini bertani rumput laut termasuk saya sendiri, walaupun ada yang sebagai pegawai negeri.” Siang yang terik itu dengan dikelilingi pohon-pohon kelapa di sekitaran gubuk Made Suar yang terletak di pesisir pantai, ia sedang sibuk mengikat rumput laut. “Membudidayakan rumput laut susah-susah gampang dibandingkan bertani tambak,” aku Made Suar sembari mengikatkan rumput laut itu pada tali sepanjang 4 meter di gubugnya yang terbuat dari bedeg.
Pembudidayaan rumput laut di Nusa Lembongan dirintis mulai tahun 1980-an sebagai upaya mengubah kebiasaan penduduk mengambil dan menjual karang-karang laut. Budidaya rumput laut dijadikan solusi mata pencahrian penduduk yang tidak merusak lingkungan di tengah gencarnya pembangunan pariwisata Bali. Memilih membudidayakan tanaman laut ini tidak lepas dari masa panen yang terbilang singkat serta hasil yang cukup lumayan. Jenis yang dibudidayakan di sini adalah jenis terutama untuk jenis euchema (Euchema Spinosum dan Euchema Cattoni). “Dimusim panen saya harus begadang mulai dari jam 12 malam untuk memanen rumput laut  hingga subuh,” ungkap Made Suar menunjukkan hasil rumput laut yang sudang kering.
            ”Butuh perjuangan membudidayakan rumput laut hingga bisa dipanen, belum lagi jika musim hujan hasil panen akan menurun. Karena selama musim hujan kadar garam di laut akan berkurang akibat percampuran air hujan dan air laut sehingga menurunkan kadar garam laut yang diperlukan untuk penanaman benih rumput laut,” jelas Made Suar. Menjadi petani rumput laut adalah solusi yang tepat ditempuh warga desa Jungutbatu untuk budi daya rumput laut. Tak hanya sumber rejeki mereka peroleh juga turut serta menjaga lingkungan. (Nila)


Ayo Sineas Negeri, Bangkitlah Berkarya!

Oleh : Nila Pertina Dewi



Laskar pelangi- Salah satu sineas  film Indonesia
 
Deretan judul film Hollywood selalu menghiasi bioskop Indonesia. Namun sekarang film buatan senias anak bangsa tak mau kalah ikut terpampang dari deretan itu.
Semangat film senias anak bangsa seakan tidak mau kalah dengan derasnya arus perkembangan  perfilman  di Indonesia. Maraknya film-film buatan luar negeri yang menguasai bioskop-bioskop di penjuru Indonesia membangkitkan motivasi mereka menghidupkan film nasional. Kita tahu dunia perfilman Indonesia redup dari film-film buatan anak bangsa. Tapi sekarang kita dengan mudah menjumpai film karya anak bangsa terpampang di layar pertunjukan di mall-mall. Ya, perfilman Indonesia yang dulu redup sekarang beranjak bangkit menaiki tangga persaingan film. Film nasional telah terbukti bisa melawan derasnya persaingan film di Indonesia dari film-film asing. Sebut saja beberapa karya sineas bangsa yang booming di bioskop Indonesia  seperti Laskar Pelangi arahan sutradara Riri Riza, yang telah ditonton oleh 4,6 juta penonton, Ayat-Ayat Cinta yang telah ditonton oleh 3,5 juta penonton, Heart , Get Married , Eiffel I'm Love, Virgin, dan Naga Bonar Jadi 2. Senias perfilman Indonesia tentunya berbangga hati. Dengan mengangkat unsur sosial, budaya bangsa kita film nasional telah mengambil perhatian masyarakat. Menciptakan demam film nasional. Itu menjadi bukti bahwa kesungguhan  sineas bangsa  menciptakan karya film yang benggengsi selain mencari nilai komersial .
Dengan menampilkan unsur pribadi kehidupan budaya dan sosial Indonesia masuk ke dalam film karya sineas bangsa, kita akan dihibur  dan dimanjakan dengan tontonan yang tentunya menarik dan mengandung nilai-nilai moral. Lihat aja film Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang sangat menyentuh kehidupan masyarakat Indonesia. Demam Laskar Pelangi yang mengguncang Indonesia di tahun 2009 memberikan nilai pelajaran kehidupan. Dengan menampilkan kisah kesepuluh anak Belitong yang gigih belajar di tengah kondisi perekonomian kelurga yang kurang, menjadikan film ini  sebagai suatu pembelajaran bagi penonton. Penonton akan disuguhkan film bernuansa edukasi yang kental bahwa masih banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang luput dari pandangan perhatian pemerintah . Tentu film nasional ini menumbuhkan inovasi remaja yang menontonnya untuk terpacu semangatnya bersekolah. Film yang lebih menampilkan  segi kehidupan di Indonesia telah menarik prasangka bahwa kita senias bangsa bisa berkarya menghasilkan film berbudaya di negeri sendiri. Tak sekadar film-film berbau horor, percintaan, komedi.  Namun, kita dapat membuktikan Indonesia juga memiliki film-film berkualitas terbuka untuk semua usia dan kalangan.
Tentunya berbanggalah sineas perfilman Indonesia, filmnya mendapat respon positif dari masyarakat. Tak sekadar ikut merangkak menaiki tangga persaingan film Indonesia dari menjamurnya film asing. Tapi film buatan anak bangsa juga bisa melanglangbuana di negara lain. Tentunya bangga film Indonesia bisa dinikmati oleh warga negara asing, bisa menunjukkan bahwa kita ini Indonesia tak sekedar kaya dengan  sumber daya alamnya tapi bisa berkarya menciptakan film yang berkualitas.
Menjamurnya film nasional setelah tahun 2000 menghidupkan kondisi film di Indonesia di tengah keterpurukan yang selama ini telah hilang eksistensinya dialami film Indonesia. Senias bangsa telah menunjukkan bahwa mereka bisa. Hidupnya film Indonesia turut mengiringi Festival Film Indonesia yang selama ini mengalami kevakuman. Di tahun 2004 dan 2005 event FFI kembali digelar. Tentu event FFI tidak sebatas ajang yang tak bermanfaat. Paling tidak dari ajang FFI ini terwujud persaingan para sineas film untuk berlomba-lomba menunjukkkan film mereka yang terbaik. Paling tidak di festival ini yang sedianya mampu menjadi motivator alternatif para Sineas dalam memproduksi film yang lebih baik lagi. Menjadikan film mereka film yang terbaik dari semua film yang ada.
Tak sekedar mencari nilai komersial dari hasil karya film nasional sineas banggsa. Namun, karya film ini memiliki tujuan mulia yaitu mempromosikan Indonesia dari segi budaya, social, alam yang ada. Kita tunjukkan bahwa kita bisa dan mampu. Beramai-ramai mempromosikan Indonesia menunjukkan jati diri dari film nasional bahwa kita ini bangsa Indonesia.
Mengawali tahun 2010 ide-ide film yang muncul tak terhenti, bahkan semangat kreatifitas mereka semakin bergairah. Tetralogi dari Laskar Pelangi yaitu Sang Pemimpi membuka kembali kesuksesan film nasional dari pandangan masyarakat. Di tahun ini film Indonesia lebih menonjolkan film-film yang bertema beragam. Melihat semakin berkembangnya film Indonesia tidak menutup kemungkinan kita bisa menyaingi film buatan Hollywood yang terkenal di mata dunia internasional. Namun, untuk hal itu kita perlu lebih belajar lagi tentang teknologi film maka mungkinlah kita bisa lebih mengkibarkan film Indonesia terbang ke awan mencapai titik keberhasilannya di dunia Mananegara.  Ayo, sineas perfilman bangsa tingkatkan lagi karyamu!




Boyz II Men - A Song For Mama Lyric

You taught me everything
And everything you've given me
I always keep it inside
You're the driving force in my life, yeah

There isn't anything
Or anyone that I can be
And it just wouldn't feel right
If I didn't have you by my side

You were there fo me to love and care for me
When skies were grey
Whenever I was down
You were always there to comfort me
And no one else can be what you have been to me
You'll always be you always will be the girl
In my life for all times

( chorus )
Mama, mama you know I love you
Oh you know I love you
Mama, mama you're the queen of my heart
Your love is like
Tears from the stars
Mama, I just want you to know
Lovin you is like food to my soul

You're always down for me
Have always been around for me even when I was bad
You showed me right from my wrong
Yes you did

And you took up for me
When everyone was downing me
You always did understand
You gave me strength to go on

There was so many times
Looking back when I was so afraid
And then you come to me
And say to me I can face anything
And no one else can do
What you have done for me
You'll always be
You will always be the girl in my life

ARTIKEL....



Persempit Ruang Gerak Budak Narkoba  
Oleh : Ni Made Nila Pertina Dewi



Kata-kata “Say No to Drugs” rupanya tak lagi mempan untuk mencegah penggunaan narkoba. Bertambah dan terus bertambah remaja sebagai ‘pecandu’.
Agaknya ungkapan “Say No to Drugs” hanya sekadar angin lalu bagi pelajar. Terbukti menjamurnya kasus-kasus pelajar sebagai pengguna narkoba marak terdengar di surat kabar, televisi, radio ataupun di media-media penyiaran lainnya. Sungguh peristiwa yang membuat perasaan kita tercengang dan bertanya-tanya, apakah yang terjadi pada remaja masa kini?
Berdasarkan survey Badan Narkotika Nasional (BNN), remaja menyumbang 8,1% sebagai pelaku pengguna barang jeratan setan ‘narkoba’.  Ironis memang.  Remaja sebagai pelajar selayaknya duduk manis menikmati pelajaran di sekolah bukan sebaliknya tinggal di bui akibat ganjaran prilaku yang mereka tanam. Apa jadinya jika sebagian besar dari remaja sebagai generasi bangsa adalah  budak narkoba. Membayangkan saja sudah membuat bulu kuduk berdiri apalagi jika itu terjadi, tak khayal “INDONESIA” hanya sekadar nama negara yang menjadi sejarah. Hancur terseret jeratan setan ‘sang narkoba’. Padahal butuh perjuangan hingga menumpahkan darah pahlawan untuk menjadikan Negara Indonesia ini merdeka seperti sekarang ini. Pengorbanan itu akan sia-sia akibat noda hitam yang dicorengkan remaja budak narkoba.
Menjadikan negara ini steril dari narkoba memang butuh penuntasan yang ekstra keras dari semua golongan masyarakat. Di Tengah Indonesia tak hanya pengkonsumsi juga produsen. Maraknya peredaran narkoba di Indonesia menjadi momok menakutkan. Banyak trik yang dipakai bandar untuk menjerat remaja menjadi candu drugs. Salah satunya dengan cara menggratiskan dulu. Setelah kecanduan akhirnya “beli lagi dan lagi”. Ada juga yang terlebih dahulu mencoba dengan mengisap rokok sebagai gerbang utama, berlanjut ke miras dan akhirnya berlabuh ke lubang narkoba. Namun, hal itu tak bisa didiamkan begitu saja, menunggu menerawang jalan penyelesaian yang tak menentu.  Penting adanya tindak  pencegahan preventif untuk membatasi  semakin meluasnya demam narkoba yang meracuni pikiran remaja. Jika tidak serius ditangani makin banyak remaja yang meregang nyawa tiap harinya. Maka itu, remaja memerlukan suntikan dukungan 3 elemen yang dekat dengan mereka.
Pertama elemen orang tua remaja harus menjalin komunikasi yang konstruktif antara orang tua dan anak. Menjadikan orang tua tempat berkeluh kesah, tempat berbagi cerita. Membuka dan menciptakan  ruang nyaman di rumah, membuat anak betah. Menanamkan nilai-nilai keagamaan yang kuat sejak anak dini, sebagai tonggak pegangan dalam kebuntuan.  
Selanjutnya guru sebagai orang tua wali di sekolah yang senantiasa membimbing  siswa untuk menjauhi narkoba. Memberi informasi yang tepat bagaimana dampak, dan mencegah dari jeratan narkoba. Mengingat anak lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Dengan mengadakan kegiatan ekstrakulikuler yang membantu anak mengembangkan potensi. Membuatnya  sibuk dengan aktivitas sekolah hingga tak ada ruang untuk pemikiran negatif.
Terakhir pemerintah sebagai instansi berwenang wajib mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mempersempit penyebaran narkoba di Indonesia. Dengan membatasi ruang gerak pengedar narkoba, polisi juga sebagai pihak berwajib terus memburu bandar narkoba yang masih menghirup udara bebas di luar sana. Jika tak segera mengerem laju perputaran roda pemuja narkoba, apakah kalian mau menjadi remaja yang meregang nyawa selanjutnya?




  Perhatikan Pemahat Bali
Oleh : Nila Pertina Dewi


Bali tak sekedar tempat berwisata namun juga sebagai tempat para wisatawan membelanjakan uangnya untuk membeli hasil karya pengrajin Bali, baik wisatawan mancanegara maupun  domestik.  Terbukti hasil perolehan devisa negara yang disumbangkan Bali dari ekspor barang-barang kerajinan sebanyak US$264 juta selama Januari hingga Juli 2009. Negara-negara yang setia menjadi langganan pengimpor kerajinan masyarakat Bali yakni Amerika Serikat, Jepang, Jerman  dan  Italia . Salah satu kerajinan primadona kerajinan khas Bali adalah seni ukir kayu. Berbagai kerajinan seni ukir kayu  mulai dari ukiran garuda, gebyog, patung, dan figura. Namun, bagaimana dengan penyediaan bahan baku kerajinan seni ukir?
Produksi ukiran kayu secara besar-besaran dimulai ketika pemerintah Indonesia melakukan promosi pariwisata pada tahun 1970an. Daerah pengrajin kerajinan ukir di Bali tersebar di pelosok Bali dari daerah  desa Mas, Ubud, Kamasan. Banyaknya produksi  ukiran kayu telah menghabiskan jenis-jenis kayu yang bernilai tinggi di Bali. Kenyataan itu memaksa para pemahat untuk mendatangkan bahan baku kayu ukiran dari luar Bali.  Kesulitan tentang bahan baku kayu yang susah dan sulit didapatkan menjadi kendala utama. Para pengrajin terpaksa mendatangkan kayu-kayu seperti kayu jati, eboni, cempaka dari luar daerah Bali seperti Sulawesi dan Kalimantan. Melambung tingginya harga kayu juga ikut menyumbang terhambatnya  produksi kerajinan ukir.  Paradigma kayu yang langka sebagai bahan baku ukiran menjadi kendala yang terbesar bagi para pengukir. Illegal logging merupakan  salah satu penyebab berkurangnya hasil kayu, dan hal itu terjadi karena pemerintah tidak tegas terhadap pelaku-pelaku yang harus bertanggung jawab akan penebangan hutan yang hingga kini masih menjalar di hutan-hutan Indonesia.
 Dilema yang meresahkan pengrajin ukir, permintaan produksi  konsumen yang berdatangan terus-menerus namun disertai masalah langkanya kayu sebagai bahan baku serta harga kayu yang tidak stabil menghambat kegiatan produksi pengerajin. Bagaimana peran pemerintah terhadap hal tersebut, akankah pemerintah diam saja dan pura-pura buta akan hal ini, namun toh ujung-ujungnya pemerintah ikut menikmati hasil perolehan devisa dari para pengrajin. Melihat sumber permasalahan para pengrajin untuk berkarya demi kesejahteraan kehidupan harus ada titik temu pemecahan permasalahan ini.  Pemerintah harus lebih memperhatikan pengerajin untuk menemukan solusi dari permasalahan pengrajin dalam berkarya agar perkembangan kerajinan ukir di Bali terus meningkat. Pemerintah seharusnya menggalakkan suatu program untuk mendorong para petani agar menanam jenis-jenis kayu yang cepat tumbuh dan cocok sebagai bahan baku ukiran kayu, yaitu jenis kayu sengon (Paraserianthesis falcataria) agar pemahat tidak kesulitan dalam mendapatkan bahan baku kayu di lain sisi para petani yang menanam sengonpun juga memperoleh pendapatan yang lebih baik. Program yang dicanangkan pemerintah harus tepat guna untuk memecahkan produksi yang efektif  bagi para pengerajin seni ukir di Bali.




Mereka Butuh Rasa Aman Bukan Ancaman
 Oleh : Nila Pertina Dewi

Hati masyarakat ketar-ketir dilanda ketakutan dan keresahan, itu terpancar dari mimik muka mereka. Ini bukan masalah gempa bumi atau pun tsunami yang mereka takuti di negeri khatulistiwa ini, juga bukan masalah teroris. Tapi ini masalah bom yang sewaktu-waktu bisa meledak di rumah mereka.
Sejak pelaksanaan program konversi minyak tanah subsidi ke elpiji bergulir pada tahun 2007, mulailah masyarakat beralih menjadi konsumen tabung gas elpiji 3 kg. Kebijakan yang dikeluarkan untuk menjamin keamanan pasokan energi dalam negeri dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan, juga sebagai antisipasi lonjakan harga minyak bumi yang tak menentu. Namun, setelah lubang pasokan energi dalam negeri tertutupi muncul lagi lubang baru. Ini terkait mengenai meningkatnya itensitas peristiwa kebakaran yang terjadi akibat ledakan tabung gas. Menurut data Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), sejak 2008 hingga Juli 2010, di Indonesia terjadi sebanyak 189 kali kasus ledakan dalam pemakaian tabung gas elpiji rumah tangga. Rinciannya, pada 2008 terjadi 61 kasus, kemudian turun menjadi 50 kasus pada 2009. Namun, jumlah temuan meningkat tajam hingga pertengahan 2010, mencapai 78 kasus. Korban luka-luka dan jiwa pun berjatuhan. Apa lagi buntut penyebabnya? tak lain ini dipicu akibat rendahnya kualitas selang dan regulator. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab?
Beban tanggung jawab seharusnya diletakkan di pundak Pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Bukan menyalahkan masyarakat sebagai konsumen tabung melon tersebut. Ini semua  akibat dari program konversi minyak tanah yang diancang-ancang pemerintah demi kebaikan warganya. Masyarakat sebagai warga negara yang taat toh hanya mengikuti kebijakan dari sang pemangku kebijakan. Sayangnya ketaatan masyarakat yang tidak diimbangi dengan pemberian rasa aman kepada masyarakat sebagai konsumen. Hingga akhirnya masalah baru pun timbul. Program konversi yang menguras dana negara ini malah menjadi boomerang bagi masyarakat. Pemerintah melalui instansi terkait yakni PT. Pertamina dan Kementerian Perindustrian harus memberikan sosialisasi mengenai masa pemakaian regulator dan selang. Alasannya, perangkat tersebut memiliki masa pemakaian paling lama satu tahun. Karenanya jika sudah melewati batas waktu tersebut harus segera diganti dengan yang baru. Namun, dalam prakteknya mereka telah “teledor”. Proses konversi yang tidak dikawal dengan baik, sosialisasi dan pengawasan yang kedodoran ditambah rendahnya kualitas selang dan regulator gas  menjadi pangkal permasalahan. Berbarengan dengan itu pemalsuan tabung dan aksesorisnya pun terjadi. Di mana rasa pertanggung jawaban pemerintah terhadap rakyat? Inikah yang diharapkan pemerintah membuat rakyat hidup dalam bayang-bayang keresahan! Masyarakat harus hidup di tengah ancaman “bom” tabung gas yang bisa saja meledak sewaktu-waktu. Sebelum menjatuhkan banyak korban lagi pemerintah harus segera mengatasi masalah ini dan tak membiarkannya berlarut-larut menggelinding menjadi bola pejal. (Nil)


 


I Don't Know About Tomorrow 

I don't know about tomorrow
I just lived from day to day I don't borrow from its sunshine
Cause the skies may turn to grey
Many things about tomorrow
I don't seem to understand
But I know who hold tomorrow
And I know who holds my hand

(Ira F.Stanphil)

UTAMA MENJAGA KESIMBANGAN
Oleh : Nila Pertina Dewi

Tap…tap…sejauh kaki melangkah… di desa kecil ujung Timur Bali. Menyambut kita eapa sadarnya masyarakat Desa ini dengan lingkungan. sar. namun iannya terhadap lingkungan.ehidupan warganya menjadi aktual daldalam keadaan menakjubkan…betapa sadarnya masyarakat desa ini dengan lingkungan.
Bali dikenal dengan keunikan budaya yang bernafaskan Agama Hindu. Desa Tenganan Pegringsingan  catatan dari ujung Timur Bali yang kental dengan budayanya. Desa Bali Aga yang menggunakan pola hidup tradisionalnya dengan aturan tradisi yang terbilang ‘ketat’. Data yang dikutip dari www.erhanana.wordpress.com bahwa 917 ha wilayahnya, 66,41 persen tanah di Tenganan Pegringsingan merupakan tanah tegalan yang sekaligus berfungsi sebagai hutan, 25,73 persen lahan persawahan, dan 7,86 persen merupakan wilayah pemukiman. Itu semua diatur dalam awig-awig (aturan) desa  tersebut. Walaupun tanah tersebut atas nama individu atau pun kelompok tidak boleh menjual atau menggadaikan tanah kepada orang luar. Tak heran wilayah Tenganan Pegringsingan sejak abad ke-11 hingga sekarang tetap sama. Hutannya pun masih tetap lestari.
Tak hanya mengatur luas wilayah Tenganan juga menyentuh tradisi budaya tenun gringsing dan perang pandan. Yang pada dasarnya itu wujud dari keharmonisan alam.  Kain gringsing pun sengaja dibuat  bermotif membentuk tanda tambah menggambarkan filosofi hidup orang Tenganan, yaitu ‘keseimbangan’. Juga dengan adanya awig-awig, keberadaan hutan di sekitar desa adat sudah dijaga jauh sebelum kesadaran masyarakat terhadap lingkungan disentak oleh isu Global Warming. Ketika demam perubahan iklim melanda masyarakat Indonesia dengan aksi tanam sejuta pohon, masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali, ternyata sudah mengatur konservasi lingkungannya.
Desa yang memiliki tradisi turun-temurun perang pandan atau yang lebih dikenal mageret pandan ini, memiliki kepercayaan untuk melindungi beberapa tanaman yang terdapat di sana. Tanaman itu durian, tehep, pangi, dan kemiri. Hal itu mendarah daging di diri setiap masyarakat. Mereka percaya tanaman tersebut tidak boleh diambil buahnya apalagi ditebang. Jika melanggar hal buruk melanda desa itu. Buah dari tanaman ‘terlarang’ tersebut hanya dapat dinikmati bila sudah jatuh dari pohonnya.
Budaya Tenganan menjaga hutan bahwa mereka bagian dari alam. Tak hanya dikenal dengan sebutan ‘pecinta lingkungan’ tapi lebih tepat karena mereka ‘patuh’ dengan awig-awig yang turun-temurun dari para penglingsir (tetua) mereka.  
Ketika orang luar ingin melihat ‘kebudayaan’ Tenganan Pegringsingan, hal itu dapat dilihat dalam hidup keseharian masyarakatnya. Karena kebudayaan merupakan sebuah proses, bukan barang antik yang harus dimuseumkan. Mereka telah mempertahankan hutan dari ‘jubah’ hutan yang terkikis di Indonesia. Menyumbang pasokan oksigen di tengah Global Warming. Secara prinsip mereka sadar bahwa budaya yang dilakukan dan dipertahankan mempunyai tujuan akhir untuk keberlanjutan hidup. (Nil)





Semakin Besar Angkanya Semakin Buruk Standarnya 
Oleh : Ni Made Nila Pertina Dewi 

 Mengawali terbitnya matahari  hal yang rutin orang-orang  lakukan membuka  menu biasa membaca koran atau pun nonton tv . Berita kecelakaan  pesawat terbang acap kali ‘menghiasi’ media massa. Indonesia termasuk satu diantara negara yang beberapa tahun belakangan ini tak lepas dari isu keselamatan transportasi udara.
 Buruknya sistem keselamatan transportasi udara di Indonesia menjadi sorotan Negara Uni Eropa. Di tahun 2008  Uni Eropa sempat mengambil langkah sepihak (unilateral act) melarang pesawat udara komersial Indonesia memasuki wilayah udara Uni Eropa. Tindakan yang  dibenarkan dalam prinsip-prinsip hukum udara internasional. Karena banyaknya peristiwa kecelakaan pesawat seperti Adam Air, Garuda dan Lion Air menambah daftar buruknya sistem dan standar keselamatan penerbangan negeri kita. Bahkan , sampai pada akhirnya negara asing sempat mengeluarkan larangan bagi warganegaranya untuk terbang naik penerbangan maskapai nasional kita. Ironis memang. Sebenarnya apa yang terjadi pada penerbangan udara negara ini?
Coba di kalkulasi. Selama kurun waktu 32 tahun (1977 – 2009 ) jumlah korban tewas dalam kecelakaan pesawat termasuk korban dalam kecelakaan pesawat terbang dengan jumlah yang ‘kecil’ adalah 4.487 jiwa.  Ini berarti dalam satu tahun rata-rata 140 jiwa atau dalam satu bulan korban meninggal akibat kecelakaan pesawat terbang rata-rata berjumlah paling sedikit 11 orang. Sungguh bukan angka yang kecil. 
Asosiasi Maskapai Sipil International (IATA) juga menyimpulkan tingkat keamanan penerbangan di Indonesia rendah sebesar 1,3, jauh dari standar ideal 0,35. ‘Semakin besar angkanya semakin buruk standarnya’. Apalagi mengingat di jaman sekarang ini transportasi udara sudah merupakan pilihan yang mutlak, terutama untuk perjalanan jauh antar negara.
Siapa yang harus disalahkan dengan buruknya standar keselamatan maskapai penerbangan negeri ini? 
Penyebab kecelakaan pesawat terbang  disebabkan oleh banyak parameter diantaranya human, maintenance dan alam. Yang jelas negara kita harus lebih memperhatikan maskapai penerbangan. Memperhatikan standar keselamatan terpenting.  Meskipun larangan-larangan penerbangan itu kini dicabut akankan maskapai Indonesia tak mengulanginya lagi?