Every night it’s all the same
You’re frozen by the phone
You wait, something’s changed
You blame yourself every day
You’d do it again
Every night
There’s something ’bout love
That breaks your heart
Whoa oh oh oh
It sets you free
There’s something ’bout love
That tears you up
Whoa oh oh oh
You still believe
When the world falls down like the rain
It’ll bring you to your knees
There’s something ’bout love that breaks your heart
Whoa oh oh oh…
But don’t give up
There’s something ’bout love
When you were young
Scared of the night
Waiting for love to come along
And make it right
Your day will come, the past is gone
So take your time
And live and let live
There’s something ’bout love
That breaks your heart
Whoa oh oh oh
It sets you free
There’s something ’bout love
That tears you up
Whoa oh oh oh
You still believe
When the world falls down like the rain
It’ll bring you to your knees
There’s something ’bout love that breaks your heart
Whoa oh oh oh…
But don’t give up
There’s something ’bout love
Don’t fight
Don’t hide
Those stars in your eyes (in your eyes)
Let em’ shine tonight
Let em’ shine tonight
http://liriklagu-top.blogspot.com
Hang on
Hang in
For the ride of your life
It’s gonna be alright
Hold on tight
There’s something ’bout love
That breaks your heart
Whoa oh oh oh
There’s something ’bout love
That breaks your heart
Whoa oh oh oh
It sets you free
There’s something ’bout love
That tears you up
Whoa oh oh oh
You still believe
When the world falls down like the rain
It’ll bring you to your knees (to your knees)
There’s something ’bout love that breaks your heart
Whoa oh oh oh…
But don’t give up
There’s something ’bout love
Whoa oh oh oh..
Set’s you free
There’s something bout love
That tears you up
Whoa oh oh oh
You still believe
When the world falls down like the rain
Si “Rumput” Yang
Dicari-Cari
Makanan
agar-agar, produk kosmetik dan olahan makanan rumput laut yang ada ketahui,
taukah dari mana asalnya???
Pagi
itu jam telah menunjukkkan pukul 10.00 WITA, saya tiba di desa Jungutbatu bagian dari Pulau Lembongan,
Klungkung. Menempuh perjalanan 40 menit dengan menggunakan boat dari pantai
Sanur. Berlabuh di desa Jungutbatu tanpa dermaga mata saya memandang birunya
laut, terubu karang, pesisir pantai dengan pasir putih.
Berjalan
di pesisir pantai hamparan rumput laut beralaskan terpal biru dengan mudah
dijumpai disana. Tanaman berwarna hijau dan merah itu memutih dijemur di tengah
teriknya matahari menyengat pulau itu. Pria paruh baya dengan kulit kecoklatan
mengungkapkan “ Sebagian besar penduduk di sini bertani rumput laut termasuk
saya sendiri, walaupun ada yang sebagai pegawai negeri.” Siang yang terik itu dengan
dikelilingi pohon-pohon kelapa di sekitaran gubuk Made Suar yang terletak di
pesisir pantai, ia sedang sibuk mengikat rumput laut. “Membudidayakan rumput
laut susah-susah gampang dibandingkan bertani tambak,” aku Made Suar sembari
mengikatkan rumput laut itu pada tali sepanjang 4 meter di gubugnya yang
terbuat dari bedeg.
Pembudidayaan rumput laut di Nusa Lembongan dirintis
mulai tahun 1980-an sebagai upaya mengubah kebiasaan penduduk mengambil dan
menjual karang-karang laut. Budidaya rumput laut dijadikan solusi mata pencahrian
penduduk yang tidak merusak lingkungan di tengah gencarnya pembangunan pariwisata
Bali. Memilih membudidayakan tanaman laut ini tidak lepas dari masa panen yang
terbilang singkat serta hasil yang cukup lumayan. Jenis yang dibudidayakan di
sini adalah jenis terutama untuk jenis euchema (Euchema Spinosum dan Euchema
Cattoni). “Dimusim panen saya harus begadang mulai dari jam 12 malam untuk memanen
rumput laut hingga subuh,” ungkap Made
Suar menunjukkan hasil rumput laut yang sudang kering.
”Butuh perjuangan membudidayakan
rumput laut hingga bisa dipanen, belum lagi jika musim hujan hasil panen akan
menurun. Karena selama musim hujan kadar garam di laut akan berkurang akibat
percampuran air hujan dan air laut sehingga menurunkan kadar garam laut yang
diperlukan untuk penanaman benih rumput laut,” jelas Made Suar. Menjadi petani
rumput laut adalah solusi yang tepat ditempuh warga desa Jungutbatu untuk budi
daya rumput laut. Tak hanya sumber rejeki mereka peroleh juga turut serta
menjaga lingkungan. (Nila)
Ayo Sineas Negeri,
Bangkitlah Berkarya!
Oleh : Nila Pertina
Dewi
Laskar pelangi- Salah satu sineas film Indonesia
Deretan judul film Hollywood selalu
menghiasi bioskop Indonesia. Namun sekarang film buatan senias anak bangsa tak
mau kalah ikut terpampang dari deretan itu.
Semangat film senias anak bangsa seakan
tidak mau kalah dengan derasnya arus perkembangan perfilman
di Indonesia. Maraknya film-film buatan luar negeri yang menguasai
bioskop-bioskop di penjuru Indonesia membangkitkan motivasi mereka menghidupkan
film nasional. Kita tahu dunia perfilman Indonesia redup dari film-film buatan
anak bangsa. Tapi sekarang kita dengan mudah menjumpai film karya anak bangsa
terpampang di layar pertunjukan di mall-mall. Ya, perfilman Indonesia yang dulu
redup sekarang beranjak bangkit menaiki tangga persaingan film. Film nasional
telah terbukti bisa melawan derasnya persaingan film di Indonesia dari
film-film asing. Sebut saja beberapa karya sineas bangsa yang booming di
bioskop Indonesia seperti Laskar
Pelangi arahan sutradara Riri Riza, yang telah ditonton oleh 4,6 juta
penonton, Ayat-Ayat Cinta yang telah ditonton oleh 3,5 juta penonton, Heart
, Get Married , Eiffel I'm Love, Virgin, dan Naga
Bonar Jadi 2. Senias
perfilman Indonesia tentunya berbangga hati. Dengan mengangkat
unsur sosial, budaya bangsa kita film nasional telah mengambil perhatian
masyarakat. Menciptakan demam film nasional. Itu menjadi bukti bahwa
kesungguhan sineas bangsa menciptakan karya film yang benggengsi selain
mencari nilai komersial .
Dengan menampilkan unsur pribadi kehidupan budaya
dan sosial Indonesia masuk ke dalam film karya sineas bangsa, kita akan
dihibur dan dimanjakan dengan tontonan
yang tentunya menarik dan mengandung nilai-nilai moral. Lihat aja film Laskar
Pelangi karya Andrea Hirata yang sangat menyentuh kehidupan masyarakat
Indonesia. Demam Laskar Pelangi yang mengguncang Indonesia di tahun 2009 memberikan
nilai pelajaran kehidupan. Dengan menampilkan kisah kesepuluh anak Belitong
yang gigih belajar di tengah kondisi perekonomian kelurga yang kurang,
menjadikan film ini sebagai suatu
pembelajaran bagi penonton. Penonton akan disuguhkan film bernuansa edukasi yang kental bahwa masih banyak
sekolah-sekolah di Indonesia yang luput dari pandangan perhatian pemerintah . Tentu
film nasional ini menumbuhkan inovasi remaja yang menontonnya untuk terpacu
semangatnya bersekolah. Film yang lebih menampilkan segi kehidupan di Indonesia telah menarik
prasangka bahwa kita senias bangsa bisa berkarya menghasilkan film berbudaya di
negeri sendiri. Tak sekadar film-film berbau horor, percintaan, komedi. Namun, kita dapat membuktikan Indonesia juga
memiliki film-film berkualitas terbuka untuk semua usia dan kalangan.
Tentunya berbanggalah sineas perfilman
Indonesia, filmnya mendapat respon positif dari masyarakat. Tak sekadar ikut
merangkak menaiki tangga persaingan film Indonesia dari menjamurnya film asing.
Tapi film buatan anak bangsa juga bisa melanglangbuana di negara lain. Tentunya
bangga film Indonesia bisa dinikmati oleh warga negara asing, bisa menunjukkan
bahwa kita ini Indonesia tak sekedar kaya dengan sumber daya alamnya tapi bisa berkarya
menciptakan film yang berkualitas.
Menjamurnya film nasional setelah tahun 2000
menghidupkan kondisi film di Indonesia di tengah keterpurukan yang selama ini telah
hilang eksistensinya dialami film Indonesia. Senias bangsa telah menunjukkan
bahwa mereka bisa. Hidupnya film Indonesia turut mengiringi Festival Film
Indonesia yang selama ini mengalami kevakuman. Di tahun 2004 dan 2005 event FFI
kembali digelar. Tentu event FFI tidak sebatas ajang yang tak bermanfaat.
Paling tidak dari ajang FFI ini terwujud persaingan para sineas film untuk
berlomba-lomba menunjukkkan film mereka yang terbaik. Paling tidak di festival
ini yang sedianya mampu menjadi motivator alternatif para Sineas dalam
memproduksi film yang lebih baik lagi. Menjadikan film mereka film yang terbaik
dari semua film yang ada.
Tak sekedar mencari nilai komersial dari
hasil karya film nasional sineas banggsa. Namun, karya film ini memiliki tujuan
mulia yaitu mempromosikan Indonesia dari segi budaya, social, alam yang ada.
Kita tunjukkan bahwa kita bisa dan mampu. Beramai-ramai mempromosikan Indonesia
menunjukkan jati diri dari film nasional bahwa kita ini bangsa Indonesia.
Mengawali tahun 2010 ide-ide film yang
muncul tak terhenti, bahkan semangat kreatifitas mereka semakin bergairah.
Tetralogi dari Laskar Pelangi yaitu Sang Pemimpi membuka kembali kesuksesan
film nasional dari pandangan masyarakat. Di tahun ini film Indonesia lebih
menonjolkan film-film yang bertema beragam. Melihat semakin berkembangnya film
Indonesia tidak menutup kemungkinan kita bisa menyaingi film buatan Hollywood
yang terkenal di mata dunia internasional. Namun, untuk hal itu kita perlu
lebih belajar lagi tentang teknologi film maka mungkinlah kita bisa lebih
mengkibarkan film Indonesia terbang ke awan mencapai titik keberhasilannya di
dunia Mananegara. Ayo, sineas perfilman
bangsa tingkatkan lagi karyamu!
Boyz II Men - A Song For Mama Lyric
You taught me everything
And everything you've given me
I always keep it inside
You're the driving force in my life, yeah
There isn't anything
Or anyone that I can be
And it just wouldn't feel right
If I didn't have you by my side
You were there fo me to love and care for me
When skies were grey
Whenever I was down
You were always there to comfort me
And no one else can be what you have been to me
You'll always be you always will be the girl
In my life for all times
( chorus )
Mama, mama you know I love you
Oh you know I love you
Mama, mama you're the queen of my heart
Your love is like
Tears from the stars
Mama, I just want you to know
Lovin you is like food to my soul
You're always down for me
Have always been around for me even when I was bad
You showed me right from my wrong
Yes you did
And you took up for me
When everyone was downing me
You always did understand
You gave me strength to go on
There was so many times
Looking back when I was so afraid
And then you come to me
And say to me I can face anything
And no one else can do
What you have done for me
You'll always be
You will always be the girl in my life
Kata-kata “Say
No to Drugs” rupanya tak lagi mempan untuk mencegah penggunaan narkoba.
Bertambah dan terus bertambah remaja sebagai ‘pecandu’.
Agaknya ungkapan “Say No to Drugs” hanya sekadar angin lalu
bagi pelajar. Terbukti menjamurnya kasus-kasus pelajar sebagai pengguna narkoba
marak terdengar di surat kabar, televisi, radio ataupun di media-media
penyiaran lainnya. Sungguh peristiwa yang membuat perasaan kita tercengang dan
bertanya-tanya, apakah yang terjadi pada remaja masa kini?
Berdasarkan
survey Badan Narkotika Nasional (BNN),
remaja menyumbang 8,1% sebagai pelaku pengguna barang jeratan setan ‘narkoba’. Ironis memang.
Remaja sebagai pelajar selayaknya duduk manis menikmati pelajaran di
sekolah bukan sebaliknya tinggal di bui akibat ganjaran prilaku yang mereka
tanam. Apa jadinya jika sebagian besar dari remaja sebagai generasi bangsa adalah
budak narkoba. Membayangkan saja sudah
membuat bulu kuduk berdiri apalagi jika itu terjadi, tak khayal “INDONESIA” hanya
sekadar nama negara yang menjadi sejarah. Hancur terseret jeratan setan ‘sang
narkoba’. Padahal butuh perjuangan hingga menumpahkan darah pahlawan untuk
menjadikan Negara Indonesia ini merdeka seperti sekarang ini. Pengorbanan itu akan
sia-sia akibat noda hitam yang dicorengkan remaja budak narkoba.
Menjadikan
negara ini steril dari narkoba memang butuh penuntasan yang ekstra keras dari
semua golongan masyarakat. Di Tengah Indonesia tak hanya pengkonsumsi juga
produsen. Maraknya peredaran narkoba di Indonesia menjadi momok menakutkan. Banyak
trik yang dipakai bandar untuk menjerat remaja menjadi candu drugs. Salah satunya dengan cara
menggratiskan dulu. Setelah kecanduan akhirnya “beli lagi
dan lagi”. Ada juga yang terlebih dahulu mencoba dengan
mengisap rokok sebagai gerbang utama, berlanjut ke miras dan akhirnya berlabuh
ke lubang narkoba. Namun, hal itu tak bisa didiamkan begitu saja, menunggu
menerawang jalan penyelesaian yang tak menentu. Penting adanya tindak pencegahan preventif untuk membatasi semakin meluasnya demam narkoba yang meracuni
pikiran remaja. Jika tidak serius ditangani makin banyak remaja yang meregang
nyawa tiap harinya. Maka itu, remaja memerlukan suntikan dukungan 3 elemen yang
dekat dengan mereka.
Pertama
elemen orang tua remaja harus menjalin
komunikasi yang konstruktif antara orang tua dan anak. Menjadikan orang tua
tempat berkeluh kesah, tempat berbagi cerita. Membuka dan menciptakan ruang nyaman di rumah, membuat anak betah.
Menanamkan nilai-nilai keagamaan yang kuat sejak anak dini, sebagai tonggak
pegangan dalam kebuntuan.
Selanjutnya guru sebagai orang tua
wali di sekolah yang senantiasa membimbing siswa untuk menjauhi narkoba. Memberi
informasi yang tepat bagaimana dampak, dan mencegah dari jeratan narkoba. Mengingat anak lebih banyak
menghabiskan waktunya di sekolah. Dengan mengadakan kegiatan ekstrakulikuler
yang membantu anak mengembangkan potensi. Membuatnya sibuk dengan aktivitas sekolah hingga tak ada
ruang untuk pemikiran negatif.
Terakhir pemerintah sebagai instansi
berwenang wajib mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mempersempit penyebaran
narkoba di Indonesia. Dengan membatasi ruang gerak pengedar narkoba, polisi
juga sebagai pihak berwajib terus memburu bandar narkoba yang masih menghirup
udara bebas di luar sana. Jika tak segera mengerem laju perputaran roda pemuja
narkoba, apakah kalian mau menjadi remaja yang meregang nyawa selanjutnya?
Perhatikan
Pemahat Bali
Oleh
: Nila Pertina Dewi
Bali tak sekedar tempat berwisata namun juga sebagai tempat para
wisatawan membelanjakan uangnya untuk membeli hasil karya pengrajin Bali, baik
wisatawan mancanegara maupundomestik. Terbukti hasil perolehan devisa negara yang
disumbangkan Bali dari ekspor barang-barang kerajinan sebanyak US$264 juta selama Januari hingga Juli 2009. Negara-negara
yang setia menjadi langganan pengimpor kerajinan masyarakat Bali yakni Amerika
Serikat, Jepang, Jerman dan Italia . Salah satu kerajinan primadona
kerajinan khas Bali adalah seni ukir kayu. Berbagai kerajinan seni ukir kayu mulai dari ukiran garuda, gebyog, patung, dan
figura. Namun, bagaimana dengan penyediaan bahan baku kerajinan seni ukir?
Produksi ukiran kayu secara besar-besaran dimulai ketika pemerintah
Indonesia melakukan promosi pariwisata pada tahun 1970an. Daerah pengrajin
kerajinan ukir di Bali tersebar di pelosok Bali dari daerah desa Mas, Ubud, Kamasan. Banyaknya
produksiukiran kayu telah menghabiskan
jenis-jenis kayu yang bernilai tinggi di Bali. Kenyataan itu memaksa para
pemahat untuk mendatangkan bahan baku kayu ukiran dari luar Bali.Kesulitan tentang bahan baku kayu yang susah
dan sulit didapatkan menjadi kendala utama. Para pengrajin terpaksa
mendatangkan kayu-kayu seperti kayu jati, eboni, cempakadari luar
daerah Bali seperti Sulawesi dan Kalimantan. Melambung tingginya harga kayu
juga ikut menyumbang terhambatnya produksi kerajinan ukir.Paradigma kayu yang langka sebagai bahan baku
ukiran menjadi kendala yang terbesar bagi para pengukir. Illegal logging
merupakan salah satu penyebab
berkurangnya hasil kayu, dan hal itu terjadi karena pemerintah tidak tegas
terhadap pelaku-pelaku yang harus bertanggung jawab akan penebangan hutan yang
hingga kini masih menjalar di hutan-hutan Indonesia.
Dilema yang meresahkan pengrajin
ukir, permintaan produksi konsumen yang
berdatangan terus-menerus namun disertai masalah langkanya kayu sebagai bahan
baku serta harga kayu yang tidak stabil menghambat kegiatan produksi pengerajin.
Bagaimana peran pemerintah terhadap hal tersebut, akankah pemerintah diam saja
dan pura-pura buta akan hal ini, namun toh ujung-ujungnya pemerintah ikut
menikmati hasil perolehan devisa dari para pengrajin. Melihat sumber
permasalahan para pengrajin untuk berkarya demi kesejahteraan kehidupan harus
ada titik temu pemecahan permasalahan ini.Pemerintah harus lebih memperhatikan pengerajin untuk menemukan solusi
dari permasalahan pengrajin dalam berkarya agar perkembangan kerajinan ukir di
Bali terus meningkat. Pemerintah seharusnya menggalakkan suatu program untuk
mendorong para petani agar menanam jenis-jenis kayu yang cepat tumbuh dan cocok
sebagai bahan baku ukiran kayu, yaitu jenis kayu sengon (Paraserianthesis falcataria) agar pemahat tidak kesulitan dalam
mendapatkan bahan baku kayu di lain sisi para petani yang menanam sengonpun
juga memperoleh pendapatan yang lebih baik. Program yang dicanangkan pemerintah
harus tepat guna untuk memecahkan produksi yang efektif bagi para pengerajin seni ukir di Bali.
Mereka Butuh
Rasa Aman Bukan Ancaman
Oleh : Nila
Pertina Dewi
Hati masyarakat
ketar-ketir dilanda ketakutan dan keresahan, itu terpancar dari mimik muka
mereka. Ini bukan masalah gempa bumi atau pun tsunami yang mereka takuti di
negeri khatulistiwa ini, juga bukan masalah teroris. Tapi ini masalah bom yang
sewaktu-waktu bisa meledak di rumah mereka.
Sejak pelaksanaan
program konversi minyak tanah subsidi ke elpiji bergulir pada tahun 2007, mulailah
masyarakat beralih menjadi konsumen tabung gas elpiji 3 kg. Kebijakan yang dikeluarkan
untuk menjamin keamanan pasokan energi dalam negeri dan mendukung pembangunan
yang berkelanjutan, juga sebagai antisipasi lonjakan harga minyak bumi yang tak
menentu. Namun, setelah lubang pasokan energi dalam negeri tertutupi muncul
lagi lubang baru. Ini terkait mengenai meningkatnya itensitas peristiwa
kebakaran yang terjadi akibat ledakan tabung gas. Menurut data Pusat Studi
Kebijakan Publik (Puskepi), sejak 2008 hingga Juli 2010, di Indonesia terjadi
sebanyak 189kali kasus ledakan dalam pemakaian tabung gas elpiji
rumah tangga. Rinciannya, pada 2008 terjadi 61 kasus, kemudian turun menjadi 50
kasus pada 2009. Namun, jumlah temuan meningkat tajam hingga pertengahan 2010,
mencapai 78 kasus. Korban luka-luka dan jiwa pun berjatuhan. Apa lagi buntut
penyebabnya? tak lain ini dipicu akibat rendahnya kualitas selang dan regulator.
Lalu siapa yang harus bertanggung jawab?
Beban tanggung jawab
seharusnya diletakkan di pundak Pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Bukan
menyalahkan masyarakat sebagai konsumen tabung melon tersebut. Ini semua akibat dari program konversi minyak tanah yang
diancang-ancang pemerintah demi kebaikan warganya. Masyarakat sebagai warga
negara yang taat toh hanya mengikuti
kebijakan dari sang pemangku kebijakan. Sayangnya ketaatan masyarakat yang tidak
diimbangi dengan pemberian rasa aman kepada masyarakat sebagai konsumen. Hingga
akhirnya masalah baru pun timbul. Program konversi yang menguras dana negara
ini malah menjadi boomerang bagi masyarakat.Pemerintah
melalui instansi terkait yakni PT. Pertamina dan Kementerian Perindustrian
harus memberikan sosialisasi mengenai masa pemakaian regulator dan selang.
Alasannya, perangkat tersebut memiliki masa pemakaian paling lama satu tahun.
Karenanya jika sudah melewati batas waktu tersebut harus segera diganti dengan
yang baru. Namun, dalam prakteknya mereka telah “teledor”. Proses konversi yang
tidak dikawal dengan baik, sosialisasi dan pengawasan yang kedodoran ditambah
rendahnya kualitas selang dan regulator gasmenjadi pangkal permasalahan. Berbarengan dengan itu pemalsuan tabung
dan aksesorisnya pun terjadi. Di mana rasa pertanggung jawaban pemerintah
terhadap rakyat? Inikah yang diharapkan pemerintah membuat rakyat hidup dalam
bayang-bayang keresahan! Masyarakat harus hidup di tengah ancaman “bom” tabung
gas yang bisa saja meledak sewaktu-waktu. Sebelum menjatuhkan banyak korban
lagi pemerintah harus segera mengatasi masalah ini dan tak membiarkannya
berlarut-larut menggelinding menjadi bola pejal. (Nil)
I Don't Know About Tomorrow
I don't know about tomorrow
I just lived from day to day
I don't borrow from its sunshine
Cause the skies may turn to grey
Many things about tomorrow
I don't seem to understand
But I know who hold tomorrow
And I know who holds my hand
(Ira F.Stanphil)
UTAMA
MENJAGA KESIMBANGAN
Oleh
: Nila Pertina Dewi
Tap…tap…sejauh kaki melangkah… di
desa kecil ujung Timur Bali. Menyambut kita eapa sadarnya masyarakat Desa ini dengan lingkungan. sar. namun
iannya terhadap lingkungan.ehidupan warganya menjadi aktual daldalam
keadaan menakjubkan…betapa sadarnya masyarakat desa ini dengan lingkungan.
Bali dikenal dengan
keunikan budaya yang bernafaskan Agama Hindu. Desa Tenganan Pegringsingan catatan dari ujung Timur Bali yang kental
dengan budayanya. Desa Bali Aga yang
menggunakan pola hidup tradisionalnya dengan aturan tradisi yang terbilang
‘ketat’. Data yang dikutip dari www.erhanana.wordpress.com bahwa 917 ha wilayahnya, 66,41 persen
tanah di Tenganan Pegringsingan merupakan tanah tegalan yang sekaligus
berfungsi sebagai hutan, 25,73 persen lahan persawahan, dan 7,86 persen
merupakan wilayah pemukiman. Itu semua diatur dalam awig-awig (aturan) desa tersebut. Walaupun tanah tersebut atas nama
individu atau pun kelompok tidak boleh menjual atau menggadaikan tanah kepada
orang luar. Tak
heran wilayah Tenganan Pegringsingan sejak abad ke-11 hingga sekarang tetap
sama. Hutannya pun masih tetap lestari.
Tak hanya mengatur luas wilayah Tenganan juga
menyentuh tradisi budaya tenun gringsing dan perang pandan. Yang pada dasarnya
itu wujud dari keharmonisan alam. Kain gringsing
pun sengaja dibuat bermotif membentuk
tanda tambah menggambarkan filosofi hidup orang Tenganan, yaitu ‘keseimbangan’.
Juga dengan adanya awig-awig, keberadaan hutan di sekitar desa
adat sudah dijaga jauh sebelum kesadaran masyarakat terhadap lingkungan
disentak oleh isu Global Warming. Ketika demam perubahan
iklim melanda masyarakat Indonesia dengan aksi tanam sejuta pohon, masyarakat
Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali, ternyata sudah mengatur
konservasi lingkungannya.
Desa yang memiliki tradisi turun-temurun perang pandan
atau yang lebih dikenal mageret
pandan ini, memiliki kepercayaan untuk melindungi beberapa
tanaman yang terdapat di sana. Tanaman itu durian, tehep,
pangi, dan kemiri. Hal itu mendarah daging di diri
setiap masyarakat. Mereka percaya tanaman tersebut tidak boleh diambil buahnya
apalagi ditebang. Jika melanggar hal buruk melanda desa itu. Buah dari tanaman
‘terlarang’ tersebut hanya dapat dinikmati bila sudah jatuh dari pohonnya.
Budaya Tenganan menjaga hutan bahwa mereka bagian dari
alam. Tak hanya dikenal dengan sebutan ‘pecinta lingkungan’ tapi lebih tepat
karena mereka ‘patuh’ dengan awig-awig yang turun-temurun dari para
penglingsir (tetua) mereka.
Ketika orang luar ingin melihat ‘kebudayaan’
Tenganan Pegringsingan, hal itu dapat dilihat dalam hidup keseharian
masyarakatnya. Karena kebudayaan merupakan sebuah proses, bukan barang antik
yang harus dimuseumkan. Mereka telah mempertahankan hutan dari ‘jubah’ hutan
yang terkikis di Indonesia. Menyumbang pasokan oksigen di tengah Global
Warming. Secara prinsip mereka sadar bahwa budaya yang
dilakukan dan dipertahankan mempunyai tujuan akhir untuk keberlanjutan hidup. (Nil)
Semakin Besar Angkanya Semakin Buruk Standarnya
Oleh : Ni Made Nila Pertina Dewi
Mengawali terbitnya matahari hal yang rutin orang-orang lakukan membuka menu biasa membaca koran atau pun nonton tv . Berita
kecelakaan pesawat terbang acap kali
‘menghiasi’ media massa. Indonesia termasuk satu diantara negara yang beberapa
tahun belakangan ini tak lepas dari isu keselamatan transportasi udara.
Buruknya
sistem keselamatan transportasi udara di Indonesia menjadi sorotan Negara Uni
Eropa. Di tahun 2008 Uni Eropa sempat mengambil
langkah sepihak (unilateral act) melarang
pesawat udara komersial Indonesia memasuki wilayah udara Uni Eropa. Tindakan yang
dibenarkan dalam prinsip-prinsip hukum
udara internasional. Karena banyaknya peristiwa kecelakaan pesawat seperti Adam
Air, Garuda dan Lion Air menambah daftar buruknya sistem dan standar
keselamatan penerbangan negeri kita. Bahkan , sampai pada akhirnya negara asing
sempat mengeluarkan larangan bagi warganegaranya untuk terbang naik penerbangan
maskapai nasional kita. Ironis memang. Sebenarnya apa yang terjadi pada
penerbangan udara negara ini?
Coba di kalkulasi. Selama kurun waktu 32
tahun (1977 – 2009 ) jumlah korban tewas dalam kecelakaan pesawat termasuk
korban dalam kecelakaan pesawat terbang dengan jumlah yang ‘kecil’ adalah 4.487
jiwa. Ini berarti dalam satu tahun rata-rata 140 jiwa atau dalam satu
bulan korban meninggal akibat kecelakaan pesawat terbang rata-rata berjumlah
paling sedikit 11 orang. Sungguh bukan angka yang kecil.
Asosiasi Maskapai Sipil International
(IATA) juga menyimpulkan tingkat keamanan penerbangan di Indonesia rendah
sebesar 1,3, jauh dari standar ideal 0,35. ‘Semakin besar angkanya semakin
buruk standarnya’. Apalagi mengingat di jaman sekarang ini transportasi udara
sudah merupakan pilihan yang mutlak, terutama untuk perjalanan jauh antar
negara.
Siapa
yang harus disalahkan dengan buruknya standar keselamatan maskapai penerbangan
negeri ini?
Penyebab
kecelakaan pesawat terbang disebabkan
oleh banyak parameter diantaranya human,
maintenance dan alam. Yang jelas negara kita harus lebih memperhatikan
maskapai penerbangan. Memperhatikan standar keselamatan terpenting. Meskipun larangan-larangan penerbangan itu
kini dicabut akankan maskapai Indonesia tak mengulanginya lagi?