Jumat, 20 Agustus 2010

“Abrasi” Terus Beraksi di Bali
Oleh : Nila Pertina Dewi 


Menerawang cakrawala pesisir dengan keelokan langit jingga di sore hari sembari duduk-duduk di sekitaran pantai itulah pemandangan yang sering di jumpai ketika di Pulau Bali. Namun bagaimana jika daerah pesisir terkikis oleh abrasi? 
Bali merupakan satu diantara tempat pariwisata yang wajib di kunjungi baik wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara. Tiada lain mereka menikmati eksotisnya pemandangan di Pulau Dewata ini. Pantai merupakan satu diantaranya. Namun, bagaimana jadinya jika pesisir pantai Bali terkikis abrasi ? Masalah abrasi mulai menerpa pesisir pantai di Bali. Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali tahun 2007, mencatat abrasi pantai di Bali sudah mencapai 90 kilometer dari sekitar 830 kilometer panjang garis pantai. Ironisnya, abrasi terparah terjadi di sejumlah pusat pengembangan pariwisata. Sebagai contoh, sejak tahun 1983 garis pantai Sanur telah berpindah sejauh 30 meter ke arah daratan, sedangkan pantai Kuta bergeser sejauh 200 meter. Demikian juga Pura Tanah Lot di Tabanan, di mana karang-karangnya sudah semakin menjauh ke arah laut, sehingga selalu dikelilingi air saat terjadi pasang laut. Di sisi timur Bali, kawasan wisata Candi Dasa, abrasi pantainya juga semakin mengkhawatirkan akibat pembangunan rumah-rumah penginapan yang kurang memerhatikan lingkungan pantai karena banyak dilakukan tepat di bibir pantai. Bahkan di Pantai Seraya, Karangasem, saat ini nelayan setempat kesulitan memperoleh tempat menambatkan perahu. Jika ditaruh di tepi pantai, rawan rusak karena diterjang gelombang ganas atau hilang karena dihanyutkan arus laut. Demikian juga di kawasan Barat Bali, abrasi Pantai Cupel telah menghancurkan sejumlah bangunan milik masyarakat sejak tahun 2002. Jika hal ini terus berlangsung maka dalam kurun waktu kurang dari 30 tahun lagi maka pantai di Bali akan terabrasi secara keseluruhan belum lagi masalah dengan daratan yang kecil maka luas Pulau Bali akan digerogoti dari semua sisinya yang menyebabkan daratan Bali yang sudah begitu padat penduduk akan semakin penuh sesak, akibat berkurangnya daratan dan pertambahan jumlah penduduk tiap tahunnya. Dari segi kewilayahan, abrasi yang terjadi di pantai Bali mengakibatkan kerusakan infrastruktur pariwisata, lahan pertanian, dan kawasan suci, misalnya, Pantai Kuta (Kabupaten Badung), Pantai Sanur dan Pantai Padanggalak (Denpasar), Pantai Lebih (Gianyar), Pantai Candidasa dan Pantai Ujung (Karangasem), Pantai Lovina (Buleleng), serta Pantai Cupel dan Banyumala (Jembrana). Ujung-ujungnya masyarakat di pesisir yang menjadi korban pertamanya. Masyarakat yang hidup bertumpu dengan memanfaatkan sumber daya alam di daerah pesisir. Contohnya saja di daerah Lembongan yang dikenal akan budi daya rumput lautnya. Mereka sangat tergantung dengan laut. Jika abrasi terus-menerus terjadi di daerah mereka. Imbasnya budi daya rumput laut pun akan terhenti. Padahal menjadi petani rumput laut merupakan solusi yang ditempuh warga desa Lembongan untuk menjaga lingkungan selain alasan mengais sumber rejeki. Tapi jika abrasi yang tak terkendali lagi, mereka mau tak mau harus beralih ke lain pekerjaan. Namun, tak semudah itu mengingat bertani rumput lautlah satu-satunya peluang masyarakat di sana untuk menyambung hidup. “Abrasi” menjadi momok menakutan baik bagi masyarakat pesisir. Faktor alam dan karena ulah manusia itu sendirilah yang menjadi ujung pangkal penyebabnya. Faktor alam yang menyebabkan terjadinya abrasi adalah karena besarnya terjangan ombak akibat angin yang keras yang menyebabkan gelombang besar yang terus menggerus pantai. Namun abrasi karena faktor alam ini kontribusinya terhadap abrasi tidak begitu besar. Sebagian besar abrasi parah yang terjadi adalah pada kawasan wisata dan pada daerah pantai yang menjadi daerah perkampungan atau aktivitas manusia, yang cenderung menyebabkan merosotnya daya dukung lingkungan pantai. Terkait dengan abrasi yang terjadi karena kegiatan manusia inilah maka perlu suatu kebijakan pemerintah untuk mengendalikan tingkat abrasi yang tiap tahun semakin meningkat tajam. Penegakan hukum atas perusak lingkungan memang menjadi persoalan utama. Masih banyak aksi eksploitasi alam pantai yang sangat merugikan dan menganiaya lingkungan. Kondisi abrasi dan kerusakan lingkungan pantai di Bali yang sudah demikian parah karena kurangnya perhatian dari pemerintah dan masyarakat tentunya akan membuat laju abrasi ini semakin menjadi-jadi. Gempuran alam melalui gelombang laut yang tak terbendung dan semakin berkurangnya keberadaan tanaman pelindung dan penahan abrasi pada kawasan pantai semakin membuat abrasi tak dapat terhindarkan. Bukan hal mustahil bahwa suatu saat nanti, keindahan panorama pantai di Bali yang begitu terkenalnya hingga ke seluruh penjuru dunia hanya tinggal sejarah bagi generasi yang akan datang. Keindahan itu mungkin hanya bisa mereka lihat dalam rekaman gambar atau pun foto dan karya seni lainnya. Apakah masyarakat mau keelokan pantai di Bali hanya sejarah? *(Nil)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar