Jumat, 20 Agustus 2010

ARTIKEL....



Persempit Ruang Gerak Budak Narkoba  
Oleh : Ni Made Nila Pertina Dewi



Kata-kata “Say No to Drugs” rupanya tak lagi mempan untuk mencegah penggunaan narkoba. Bertambah dan terus bertambah remaja sebagai ‘pecandu’.
Agaknya ungkapan “Say No to Drugs” hanya sekadar angin lalu bagi pelajar. Terbukti menjamurnya kasus-kasus pelajar sebagai pengguna narkoba marak terdengar di surat kabar, televisi, radio ataupun di media-media penyiaran lainnya. Sungguh peristiwa yang membuat perasaan kita tercengang dan bertanya-tanya, apakah yang terjadi pada remaja masa kini?
Berdasarkan survey Badan Narkotika Nasional (BNN), remaja menyumbang 8,1% sebagai pelaku pengguna barang jeratan setan ‘narkoba’.  Ironis memang.  Remaja sebagai pelajar selayaknya duduk manis menikmati pelajaran di sekolah bukan sebaliknya tinggal di bui akibat ganjaran prilaku yang mereka tanam. Apa jadinya jika sebagian besar dari remaja sebagai generasi bangsa adalah  budak narkoba. Membayangkan saja sudah membuat bulu kuduk berdiri apalagi jika itu terjadi, tak khayal “INDONESIA” hanya sekadar nama negara yang menjadi sejarah. Hancur terseret jeratan setan ‘sang narkoba’. Padahal butuh perjuangan hingga menumpahkan darah pahlawan untuk menjadikan Negara Indonesia ini merdeka seperti sekarang ini. Pengorbanan itu akan sia-sia akibat noda hitam yang dicorengkan remaja budak narkoba.
Menjadikan negara ini steril dari narkoba memang butuh penuntasan yang ekstra keras dari semua golongan masyarakat. Di Tengah Indonesia tak hanya pengkonsumsi juga produsen. Maraknya peredaran narkoba di Indonesia menjadi momok menakutkan. Banyak trik yang dipakai bandar untuk menjerat remaja menjadi candu drugs. Salah satunya dengan cara menggratiskan dulu. Setelah kecanduan akhirnya “beli lagi dan lagi”. Ada juga yang terlebih dahulu mencoba dengan mengisap rokok sebagai gerbang utama, berlanjut ke miras dan akhirnya berlabuh ke lubang narkoba. Namun, hal itu tak bisa didiamkan begitu saja, menunggu menerawang jalan penyelesaian yang tak menentu.  Penting adanya tindak  pencegahan preventif untuk membatasi  semakin meluasnya demam narkoba yang meracuni pikiran remaja. Jika tidak serius ditangani makin banyak remaja yang meregang nyawa tiap harinya. Maka itu, remaja memerlukan suntikan dukungan 3 elemen yang dekat dengan mereka.
Pertama elemen orang tua remaja harus menjalin komunikasi yang konstruktif antara orang tua dan anak. Menjadikan orang tua tempat berkeluh kesah, tempat berbagi cerita. Membuka dan menciptakan  ruang nyaman di rumah, membuat anak betah. Menanamkan nilai-nilai keagamaan yang kuat sejak anak dini, sebagai tonggak pegangan dalam kebuntuan.  
Selanjutnya guru sebagai orang tua wali di sekolah yang senantiasa membimbing  siswa untuk menjauhi narkoba. Memberi informasi yang tepat bagaimana dampak, dan mencegah dari jeratan narkoba. Mengingat anak lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Dengan mengadakan kegiatan ekstrakulikuler yang membantu anak mengembangkan potensi. Membuatnya  sibuk dengan aktivitas sekolah hingga tak ada ruang untuk pemikiran negatif.
Terakhir pemerintah sebagai instansi berwenang wajib mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mempersempit penyebaran narkoba di Indonesia. Dengan membatasi ruang gerak pengedar narkoba, polisi juga sebagai pihak berwajib terus memburu bandar narkoba yang masih menghirup udara bebas di luar sana. Jika tak segera mengerem laju perputaran roda pemuja narkoba, apakah kalian mau menjadi remaja yang meregang nyawa selanjutnya?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar