Persempit Ruang Gerak Budak Narkoba
Oleh : Ni Made
Nila Pertina Dewi
Kata-kata “Say
No to Drugs” rupanya tak lagi mempan untuk mencegah penggunaan narkoba.
Bertambah dan terus bertambah remaja sebagai ‘pecandu’.
Agaknya ungkapan “Say No to Drugs” hanya sekadar angin lalu
bagi pelajar. Terbukti menjamurnya kasus-kasus pelajar sebagai pengguna narkoba
marak terdengar di surat kabar, televisi, radio ataupun di media-media
penyiaran lainnya. Sungguh peristiwa yang membuat perasaan kita tercengang dan
bertanya-tanya, apakah yang terjadi pada remaja masa kini?
Berdasarkan
survey Badan Narkotika Nasional (BNN),
remaja menyumbang 8,1% sebagai pelaku pengguna barang jeratan setan ‘narkoba’. Ironis memang.
Remaja sebagai pelajar selayaknya duduk manis menikmati pelajaran di
sekolah bukan sebaliknya tinggal di bui akibat ganjaran prilaku yang mereka
tanam. Apa jadinya jika sebagian besar dari remaja sebagai generasi bangsa adalah
budak narkoba. Membayangkan saja sudah
membuat bulu kuduk berdiri apalagi jika itu terjadi, tak khayal “INDONESIA” hanya
sekadar nama negara yang menjadi sejarah. Hancur terseret jeratan setan ‘sang
narkoba’. Padahal butuh perjuangan hingga menumpahkan darah pahlawan untuk
menjadikan Negara Indonesia ini merdeka seperti sekarang ini. Pengorbanan itu akan
sia-sia akibat noda hitam yang dicorengkan remaja budak narkoba.
Menjadikan
negara ini steril dari narkoba memang butuh penuntasan yang ekstra keras dari
semua golongan masyarakat. Di Tengah Indonesia tak hanya pengkonsumsi juga
produsen. Maraknya peredaran narkoba di Indonesia menjadi momok menakutkan. Banyak
trik yang dipakai bandar untuk menjerat remaja menjadi candu drugs. Salah satunya dengan cara
menggratiskan dulu. Setelah kecanduan akhirnya “beli lagi
dan lagi”. Ada juga yang terlebih dahulu mencoba dengan
mengisap rokok sebagai gerbang utama, berlanjut ke miras dan akhirnya berlabuh
ke lubang narkoba. Namun, hal itu tak bisa didiamkan begitu saja, menunggu
menerawang jalan penyelesaian yang tak menentu. Penting adanya tindak pencegahan preventif untuk membatasi semakin meluasnya demam narkoba yang meracuni
pikiran remaja. Jika tidak serius ditangani makin banyak remaja yang meregang
nyawa tiap harinya. Maka itu, remaja memerlukan suntikan dukungan 3 elemen yang
dekat dengan mereka.
Pertama
elemen orang tua remaja harus menjalin
komunikasi yang konstruktif antara orang tua dan anak. Menjadikan orang tua
tempat berkeluh kesah, tempat berbagi cerita. Membuka dan menciptakan ruang nyaman di rumah, membuat anak betah.
Menanamkan nilai-nilai keagamaan yang kuat sejak anak dini, sebagai tonggak
pegangan dalam kebuntuan.
Selanjutnya guru sebagai orang tua
wali di sekolah yang senantiasa membimbing siswa untuk menjauhi narkoba. Memberi
informasi yang tepat bagaimana dampak, dan mencegah dari jeratan narkoba. Mengingat anak lebih banyak
menghabiskan waktunya di sekolah. Dengan mengadakan kegiatan ekstrakulikuler
yang membantu anak mengembangkan potensi. Membuatnya sibuk dengan aktivitas sekolah hingga tak ada
ruang untuk pemikiran negatif.
Terakhir pemerintah sebagai instansi
berwenang wajib mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mempersempit penyebaran
narkoba di Indonesia. Dengan membatasi ruang gerak pengedar narkoba, polisi
juga sebagai pihak berwajib terus memburu bandar narkoba yang masih menghirup
udara bebas di luar sana. Jika tak segera mengerem laju perputaran roda pemuja
narkoba, apakah kalian mau menjadi remaja yang meregang nyawa selanjutnya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar