Perhatikan
Pemahat Bali
Oleh
: Nila Pertina Dewi
Bali tak sekedar tempat berwisata namun juga sebagai tempat para
wisatawan membelanjakan uangnya untuk membeli hasil karya pengrajin Bali, baik
wisatawan mancanegara maupun domestik. Terbukti hasil perolehan devisa negara yang
disumbangkan Bali dari ekspor barang-barang kerajinan sebanyak US$264 juta selama Januari hingga Juli 2009. Negara-negara
yang setia menjadi langganan pengimpor kerajinan masyarakat Bali yakni Amerika
Serikat, Jepang, Jerman dan Italia . Salah satu kerajinan primadona
kerajinan khas Bali adalah seni ukir kayu. Berbagai kerajinan seni ukir kayu mulai dari ukiran garuda, gebyog, patung, dan
figura. Namun, bagaimana dengan penyediaan bahan baku kerajinan seni ukir?
Produksi ukiran kayu secara besar-besaran dimulai ketika pemerintah
Indonesia melakukan promosi pariwisata pada tahun 1970an. Daerah pengrajin
kerajinan ukir di Bali tersebar di pelosok Bali dari daerah desa Mas, Ubud, Kamasan. Banyaknya
produksi ukiran kayu telah menghabiskan
jenis-jenis kayu yang bernilai tinggi di Bali. Kenyataan itu memaksa para
pemahat untuk mendatangkan bahan baku kayu ukiran dari luar Bali. Kesulitan tentang bahan baku kayu yang susah
dan sulit didapatkan menjadi kendala utama. Para pengrajin terpaksa
mendatangkan kayu-kayu seperti kayu jati, eboni, cempaka dari luar
daerah Bali seperti Sulawesi dan Kalimantan. Melambung tingginya harga kayu
juga ikut menyumbang terhambatnya produksi kerajinan ukir. Paradigma kayu yang langka sebagai bahan baku
ukiran menjadi kendala yang terbesar bagi para pengukir. Illegal logging
merupakan salah satu penyebab
berkurangnya hasil kayu, dan hal itu terjadi karena pemerintah tidak tegas
terhadap pelaku-pelaku yang harus bertanggung jawab akan penebangan hutan yang
hingga kini masih menjalar di hutan-hutan Indonesia.
Dilema yang meresahkan pengrajin
ukir, permintaan produksi konsumen yang
berdatangan terus-menerus namun disertai masalah langkanya kayu sebagai bahan
baku serta harga kayu yang tidak stabil menghambat kegiatan produksi pengerajin.
Bagaimana peran pemerintah terhadap hal tersebut, akankah pemerintah diam saja
dan pura-pura buta akan hal ini, namun toh ujung-ujungnya pemerintah ikut
menikmati hasil perolehan devisa dari para pengrajin. Melihat sumber
permasalahan para pengrajin untuk berkarya demi kesejahteraan kehidupan harus
ada titik temu pemecahan permasalahan ini.
Pemerintah harus lebih memperhatikan pengerajin untuk menemukan solusi
dari permasalahan pengrajin dalam berkarya agar perkembangan kerajinan ukir di
Bali terus meningkat. Pemerintah seharusnya menggalakkan suatu program untuk
mendorong para petani agar menanam jenis-jenis kayu yang cepat tumbuh dan cocok
sebagai bahan baku ukiran kayu, yaitu jenis kayu sengon (Paraserianthesis falcataria) agar pemahat tidak kesulitan dalam
mendapatkan bahan baku kayu di lain sisi para petani yang menanam sengonpun
juga memperoleh pendapatan yang lebih baik. Program yang dicanangkan pemerintah
harus tepat guna untuk memecahkan produksi yang efektif bagi para pengerajin seni ukir di Bali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar