Jumat, 20 Agustus 2010

  Perhatikan Pemahat Bali
Oleh : Nila Pertina Dewi


Bali tak sekedar tempat berwisata namun juga sebagai tempat para wisatawan membelanjakan uangnya untuk membeli hasil karya pengrajin Bali, baik wisatawan mancanegara maupun  domestik.  Terbukti hasil perolehan devisa negara yang disumbangkan Bali dari ekspor barang-barang kerajinan sebanyak US$264 juta selama Januari hingga Juli 2009. Negara-negara yang setia menjadi langganan pengimpor kerajinan masyarakat Bali yakni Amerika Serikat, Jepang, Jerman  dan  Italia . Salah satu kerajinan primadona kerajinan khas Bali adalah seni ukir kayu. Berbagai kerajinan seni ukir kayu  mulai dari ukiran garuda, gebyog, patung, dan figura. Namun, bagaimana dengan penyediaan bahan baku kerajinan seni ukir?
Produksi ukiran kayu secara besar-besaran dimulai ketika pemerintah Indonesia melakukan promosi pariwisata pada tahun 1970an. Daerah pengrajin kerajinan ukir di Bali tersebar di pelosok Bali dari daerah  desa Mas, Ubud, Kamasan. Banyaknya produksi  ukiran kayu telah menghabiskan jenis-jenis kayu yang bernilai tinggi di Bali. Kenyataan itu memaksa para pemahat untuk mendatangkan bahan baku kayu ukiran dari luar Bali.  Kesulitan tentang bahan baku kayu yang susah dan sulit didapatkan menjadi kendala utama. Para pengrajin terpaksa mendatangkan kayu-kayu seperti kayu jati, eboni, cempaka dari luar daerah Bali seperti Sulawesi dan Kalimantan. Melambung tingginya harga kayu juga ikut menyumbang terhambatnya  produksi kerajinan ukir.  Paradigma kayu yang langka sebagai bahan baku ukiran menjadi kendala yang terbesar bagi para pengukir. Illegal logging merupakan  salah satu penyebab berkurangnya hasil kayu, dan hal itu terjadi karena pemerintah tidak tegas terhadap pelaku-pelaku yang harus bertanggung jawab akan penebangan hutan yang hingga kini masih menjalar di hutan-hutan Indonesia.
 Dilema yang meresahkan pengrajin ukir, permintaan produksi  konsumen yang berdatangan terus-menerus namun disertai masalah langkanya kayu sebagai bahan baku serta harga kayu yang tidak stabil menghambat kegiatan produksi pengerajin. Bagaimana peran pemerintah terhadap hal tersebut, akankah pemerintah diam saja dan pura-pura buta akan hal ini, namun toh ujung-ujungnya pemerintah ikut menikmati hasil perolehan devisa dari para pengrajin. Melihat sumber permasalahan para pengrajin untuk berkarya demi kesejahteraan kehidupan harus ada titik temu pemecahan permasalahan ini.  Pemerintah harus lebih memperhatikan pengerajin untuk menemukan solusi dari permasalahan pengrajin dalam berkarya agar perkembangan kerajinan ukir di Bali terus meningkat. Pemerintah seharusnya menggalakkan suatu program untuk mendorong para petani agar menanam jenis-jenis kayu yang cepat tumbuh dan cocok sebagai bahan baku ukiran kayu, yaitu jenis kayu sengon (Paraserianthesis falcataria) agar pemahat tidak kesulitan dalam mendapatkan bahan baku kayu di lain sisi para petani yang menanam sengonpun juga memperoleh pendapatan yang lebih baik. Program yang dicanangkan pemerintah harus tepat guna untuk memecahkan produksi yang efektif  bagi para pengerajin seni ukir di Bali.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar