Ayo Sineas Negeri,
Bangkitlah Berkarya!
Oleh : Nila Pertina
Dewi
![]() |
| Laskar pelangi- Salah satu sineas film Indonesia |
Deretan judul film Hollywood selalu
menghiasi bioskop Indonesia. Namun sekarang film buatan senias anak bangsa tak
mau kalah ikut terpampang dari deretan itu.
Semangat film senias anak bangsa seakan
tidak mau kalah dengan derasnya arus perkembangan perfilman
di Indonesia. Maraknya film-film buatan luar negeri yang menguasai
bioskop-bioskop di penjuru Indonesia membangkitkan motivasi mereka menghidupkan
film nasional. Kita tahu dunia perfilman Indonesia redup dari film-film buatan
anak bangsa. Tapi sekarang kita dengan mudah menjumpai film karya anak bangsa
terpampang di layar pertunjukan di mall-mall. Ya, perfilman Indonesia yang dulu
redup sekarang beranjak bangkit menaiki tangga persaingan film. Film nasional
telah terbukti bisa melawan derasnya persaingan film di Indonesia dari
film-film asing. Sebut saja beberapa karya sineas bangsa yang booming di
bioskop Indonesia seperti Laskar
Pelangi arahan sutradara Riri Riza, yang telah ditonton oleh 4,6 juta
penonton, Ayat-Ayat Cinta yang telah ditonton oleh 3,5 juta penonton, Heart
, Get Married , Eiffel I'm Love, Virgin, dan Naga
Bonar Jadi 2. Senias
perfilman Indonesia tentunya berbangga hati. Dengan mengangkat
unsur sosial, budaya bangsa kita film nasional telah mengambil perhatian
masyarakat. Menciptakan demam film nasional. Itu menjadi bukti bahwa
kesungguhan sineas bangsa menciptakan karya film yang benggengsi selain
mencari nilai komersial .
Dengan menampilkan unsur pribadi kehidupan budaya
dan sosial Indonesia masuk ke dalam film karya sineas bangsa, kita akan
dihibur dan dimanjakan dengan tontonan
yang tentunya menarik dan mengandung nilai-nilai moral. Lihat aja film Laskar
Pelangi karya Andrea Hirata yang sangat menyentuh kehidupan masyarakat
Indonesia. Demam Laskar Pelangi yang mengguncang Indonesia di tahun 2009 memberikan
nilai pelajaran kehidupan. Dengan menampilkan kisah kesepuluh anak Belitong
yang gigih belajar di tengah kondisi perekonomian kelurga yang kurang,
menjadikan film ini sebagai suatu
pembelajaran bagi penonton. Penonton akan disuguhkan film bernuansa edukasi yang kental bahwa masih banyak
sekolah-sekolah di Indonesia yang luput dari pandangan perhatian pemerintah . Tentu
film nasional ini menumbuhkan inovasi remaja yang menontonnya untuk terpacu
semangatnya bersekolah. Film yang lebih menampilkan segi kehidupan di Indonesia telah menarik
prasangka bahwa kita senias bangsa bisa berkarya menghasilkan film berbudaya di
negeri sendiri. Tak sekadar film-film berbau horor, percintaan, komedi. Namun, kita dapat membuktikan Indonesia juga
memiliki film-film berkualitas terbuka untuk semua usia dan kalangan.
Tentunya berbanggalah sineas perfilman
Indonesia, filmnya mendapat respon positif dari masyarakat. Tak sekadar ikut
merangkak menaiki tangga persaingan film Indonesia dari menjamurnya film asing.
Tapi film buatan anak bangsa juga bisa melanglangbuana di negara lain. Tentunya
bangga film Indonesia bisa dinikmati oleh warga negara asing, bisa menunjukkan
bahwa kita ini Indonesia tak sekedar kaya dengan sumber daya alamnya tapi bisa berkarya
menciptakan film yang berkualitas.
Menjamurnya film nasional setelah tahun 2000
menghidupkan kondisi film di Indonesia di tengah keterpurukan yang selama ini telah
hilang eksistensinya dialami film Indonesia. Senias bangsa telah menunjukkan
bahwa mereka bisa. Hidupnya film Indonesia turut mengiringi Festival Film
Indonesia yang selama ini mengalami kevakuman. Di tahun 2004 dan 2005 event FFI
kembali digelar. Tentu event FFI tidak sebatas ajang yang tak bermanfaat.
Paling tidak dari ajang FFI ini terwujud persaingan para sineas film untuk
berlomba-lomba menunjukkkan film mereka yang terbaik. Paling tidak di festival
ini yang sedianya mampu menjadi motivator alternatif para Sineas dalam
memproduksi film yang lebih baik lagi. Menjadikan film mereka film yang terbaik
dari semua film yang ada.
Tak sekedar mencari nilai komersial dari
hasil karya film nasional sineas banggsa. Namun, karya film ini memiliki tujuan
mulia yaitu mempromosikan Indonesia dari segi budaya, social, alam yang ada.
Kita tunjukkan bahwa kita bisa dan mampu. Beramai-ramai mempromosikan Indonesia
menunjukkan jati diri dari film nasional bahwa kita ini bangsa Indonesia.
Mengawali tahun 2010 ide-ide film yang
muncul tak terhenti, bahkan semangat kreatifitas mereka semakin bergairah.
Tetralogi dari Laskar Pelangi yaitu Sang Pemimpi membuka kembali kesuksesan
film nasional dari pandangan masyarakat. Di tahun ini film Indonesia lebih
menonjolkan film-film yang bertema beragam. Melihat semakin berkembangnya film
Indonesia tidak menutup kemungkinan kita bisa menyaingi film buatan Hollywood
yang terkenal di mata dunia internasional. Namun, untuk hal itu kita perlu
lebih belajar lagi tentang teknologi film maka mungkinlah kita bisa lebih
mengkibarkan film Indonesia terbang ke awan mencapai titik keberhasilannya di
dunia Mananegara. Ayo, sineas perfilman
bangsa tingkatkan lagi karyamu!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar