Jumat, 20 Agustus 2010


Ayo Sineas Negeri, Bangkitlah Berkarya!

Oleh : Nila Pertina Dewi



Laskar pelangi- Salah satu sineas  film Indonesia
 
Deretan judul film Hollywood selalu menghiasi bioskop Indonesia. Namun sekarang film buatan senias anak bangsa tak mau kalah ikut terpampang dari deretan itu.
Semangat film senias anak bangsa seakan tidak mau kalah dengan derasnya arus perkembangan  perfilman  di Indonesia. Maraknya film-film buatan luar negeri yang menguasai bioskop-bioskop di penjuru Indonesia membangkitkan motivasi mereka menghidupkan film nasional. Kita tahu dunia perfilman Indonesia redup dari film-film buatan anak bangsa. Tapi sekarang kita dengan mudah menjumpai film karya anak bangsa terpampang di layar pertunjukan di mall-mall. Ya, perfilman Indonesia yang dulu redup sekarang beranjak bangkit menaiki tangga persaingan film. Film nasional telah terbukti bisa melawan derasnya persaingan film di Indonesia dari film-film asing. Sebut saja beberapa karya sineas bangsa yang booming di bioskop Indonesia  seperti Laskar Pelangi arahan sutradara Riri Riza, yang telah ditonton oleh 4,6 juta penonton, Ayat-Ayat Cinta yang telah ditonton oleh 3,5 juta penonton, Heart , Get Married , Eiffel I'm Love, Virgin, dan Naga Bonar Jadi 2. Senias perfilman Indonesia tentunya berbangga hati. Dengan mengangkat unsur sosial, budaya bangsa kita film nasional telah mengambil perhatian masyarakat. Menciptakan demam film nasional. Itu menjadi bukti bahwa kesungguhan  sineas bangsa  menciptakan karya film yang benggengsi selain mencari nilai komersial .
Dengan menampilkan unsur pribadi kehidupan budaya dan sosial Indonesia masuk ke dalam film karya sineas bangsa, kita akan dihibur  dan dimanjakan dengan tontonan yang tentunya menarik dan mengandung nilai-nilai moral. Lihat aja film Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang sangat menyentuh kehidupan masyarakat Indonesia. Demam Laskar Pelangi yang mengguncang Indonesia di tahun 2009 memberikan nilai pelajaran kehidupan. Dengan menampilkan kisah kesepuluh anak Belitong yang gigih belajar di tengah kondisi perekonomian kelurga yang kurang, menjadikan film ini  sebagai suatu pembelajaran bagi penonton. Penonton akan disuguhkan film bernuansa edukasi yang kental bahwa masih banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang luput dari pandangan perhatian pemerintah . Tentu film nasional ini menumbuhkan inovasi remaja yang menontonnya untuk terpacu semangatnya bersekolah. Film yang lebih menampilkan  segi kehidupan di Indonesia telah menarik prasangka bahwa kita senias bangsa bisa berkarya menghasilkan film berbudaya di negeri sendiri. Tak sekadar film-film berbau horor, percintaan, komedi.  Namun, kita dapat membuktikan Indonesia juga memiliki film-film berkualitas terbuka untuk semua usia dan kalangan.
Tentunya berbanggalah sineas perfilman Indonesia, filmnya mendapat respon positif dari masyarakat. Tak sekadar ikut merangkak menaiki tangga persaingan film Indonesia dari menjamurnya film asing. Tapi film buatan anak bangsa juga bisa melanglangbuana di negara lain. Tentunya bangga film Indonesia bisa dinikmati oleh warga negara asing, bisa menunjukkan bahwa kita ini Indonesia tak sekedar kaya dengan  sumber daya alamnya tapi bisa berkarya menciptakan film yang berkualitas.
Menjamurnya film nasional setelah tahun 2000 menghidupkan kondisi film di Indonesia di tengah keterpurukan yang selama ini telah hilang eksistensinya dialami film Indonesia. Senias bangsa telah menunjukkan bahwa mereka bisa. Hidupnya film Indonesia turut mengiringi Festival Film Indonesia yang selama ini mengalami kevakuman. Di tahun 2004 dan 2005 event FFI kembali digelar. Tentu event FFI tidak sebatas ajang yang tak bermanfaat. Paling tidak dari ajang FFI ini terwujud persaingan para sineas film untuk berlomba-lomba menunjukkkan film mereka yang terbaik. Paling tidak di festival ini yang sedianya mampu menjadi motivator alternatif para Sineas dalam memproduksi film yang lebih baik lagi. Menjadikan film mereka film yang terbaik dari semua film yang ada.
Tak sekedar mencari nilai komersial dari hasil karya film nasional sineas banggsa. Namun, karya film ini memiliki tujuan mulia yaitu mempromosikan Indonesia dari segi budaya, social, alam yang ada. Kita tunjukkan bahwa kita bisa dan mampu. Beramai-ramai mempromosikan Indonesia menunjukkan jati diri dari film nasional bahwa kita ini bangsa Indonesia.
Mengawali tahun 2010 ide-ide film yang muncul tak terhenti, bahkan semangat kreatifitas mereka semakin bergairah. Tetralogi dari Laskar Pelangi yaitu Sang Pemimpi membuka kembali kesuksesan film nasional dari pandangan masyarakat. Di tahun ini film Indonesia lebih menonjolkan film-film yang bertema beragam. Melihat semakin berkembangnya film Indonesia tidak menutup kemungkinan kita bisa menyaingi film buatan Hollywood yang terkenal di mata dunia internasional. Namun, untuk hal itu kita perlu lebih belajar lagi tentang teknologi film maka mungkinlah kita bisa lebih mengkibarkan film Indonesia terbang ke awan mencapai titik keberhasilannya di dunia Mananegara.  Ayo, sineas perfilman bangsa tingkatkan lagi karyamu!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar