Si “Rumput” Yang
Dicari-Cari
Makanan
agar-agar, produk kosmetik dan olahan makanan rumput laut yang ada ketahui,
taukah dari mana asalnya???
Pagi
itu jam telah menunjukkkan pukul 10.00 WITA, saya tiba di desa Jungutbatu bagian dari Pulau Lembongan,
Klungkung. Menempuh perjalanan 40 menit dengan menggunakan boat dari pantai
Sanur. Berlabuh di desa Jungutbatu tanpa dermaga mata saya memandang birunya
laut, terubu karang, pesisir pantai dengan pasir putih.
Berjalan
di pesisir pantai hamparan rumput laut beralaskan terpal biru dengan mudah
dijumpai disana. Tanaman berwarna hijau dan merah itu memutih dijemur di tengah
teriknya matahari menyengat pulau itu. Pria paruh baya dengan kulit kecoklatan
mengungkapkan “ Sebagian besar penduduk di sini bertani rumput laut termasuk
saya sendiri, walaupun ada yang sebagai pegawai negeri.” Siang yang terik itu dengan
dikelilingi pohon-pohon kelapa di sekitaran gubuk Made Suar yang terletak di
pesisir pantai, ia sedang sibuk mengikat rumput laut. “Membudidayakan rumput
laut susah-susah gampang dibandingkan bertani tambak,” aku Made Suar sembari
mengikatkan rumput laut itu pada tali sepanjang 4 meter di gubugnya yang
terbuat dari bedeg.
Pembudidayaan rumput laut di Nusa Lembongan dirintis
mulai tahun 1980-an sebagai upaya mengubah kebiasaan penduduk mengambil dan
menjual karang-karang laut. Budidaya rumput laut dijadikan solusi mata pencahrian
penduduk yang tidak merusak lingkungan di tengah gencarnya pembangunan pariwisata
Bali. Memilih membudidayakan tanaman laut ini tidak lepas dari masa panen yang
terbilang singkat serta hasil yang cukup lumayan. Jenis yang dibudidayakan di
sini adalah jenis terutama untuk jenis euchema (Euchema Spinosum dan Euchema
Cattoni). “Dimusim panen saya harus begadang mulai dari jam 12 malam untuk memanen
rumput laut hingga subuh,” ungkap Made
Suar menunjukkan hasil rumput laut yang sudang kering.
”Butuh perjuangan membudidayakan
rumput laut hingga bisa dipanen, belum lagi jika musim hujan hasil panen akan
menurun. Karena selama musim hujan kadar garam di laut akan berkurang akibat
percampuran air hujan dan air laut sehingga menurunkan kadar garam laut yang
diperlukan untuk penanaman benih rumput laut,” jelas Made Suar. Menjadi petani
rumput laut adalah solusi yang tepat ditempuh warga desa Jungutbatu untuk budi
daya rumput laut. Tak hanya sumber rejeki mereka peroleh juga turut serta
menjaga lingkungan. (Nila)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar