Jumat, 20 Agustus 2010


Si “Rumput” Yang Dicari-Cari
Makanan agar-agar, produk kosmetik dan olahan makanan rumput laut yang ada ketahui, taukah dari mana asalnya???
Pagi itu jam telah menunjukkkan pukul 10.00 WITA, saya tiba di  desa Jungutbatu bagian dari Pulau Lembongan, Klungkung. Menempuh perjalanan 40 menit dengan menggunakan boat dari pantai Sanur. Berlabuh di desa Jungutbatu tanpa dermaga mata saya memandang birunya laut, terubu karang, pesisir pantai dengan pasir putih.
Berjalan di pesisir pantai hamparan rumput laut beralaskan terpal biru dengan mudah dijumpai disana. Tanaman berwarna hijau dan merah itu memutih dijemur di tengah teriknya matahari menyengat pulau itu. Pria paruh baya dengan kulit kecoklatan mengungkapkan “ Sebagian besar penduduk di sini bertani rumput laut termasuk saya sendiri, walaupun ada yang sebagai pegawai negeri.” Siang yang terik itu dengan dikelilingi pohon-pohon kelapa di sekitaran gubuk Made Suar yang terletak di pesisir pantai, ia sedang sibuk mengikat rumput laut. “Membudidayakan rumput laut susah-susah gampang dibandingkan bertani tambak,” aku Made Suar sembari mengikatkan rumput laut itu pada tali sepanjang 4 meter di gubugnya yang terbuat dari bedeg.
Pembudidayaan rumput laut di Nusa Lembongan dirintis mulai tahun 1980-an sebagai upaya mengubah kebiasaan penduduk mengambil dan menjual karang-karang laut. Budidaya rumput laut dijadikan solusi mata pencahrian penduduk yang tidak merusak lingkungan di tengah gencarnya pembangunan pariwisata Bali. Memilih membudidayakan tanaman laut ini tidak lepas dari masa panen yang terbilang singkat serta hasil yang cukup lumayan. Jenis yang dibudidayakan di sini adalah jenis terutama untuk jenis euchema (Euchema Spinosum dan Euchema Cattoni). “Dimusim panen saya harus begadang mulai dari jam 12 malam untuk memanen rumput laut  hingga subuh,” ungkap Made Suar menunjukkan hasil rumput laut yang sudang kering.
            ”Butuh perjuangan membudidayakan rumput laut hingga bisa dipanen, belum lagi jika musim hujan hasil panen akan menurun. Karena selama musim hujan kadar garam di laut akan berkurang akibat percampuran air hujan dan air laut sehingga menurunkan kadar garam laut yang diperlukan untuk penanaman benih rumput laut,” jelas Made Suar. Menjadi petani rumput laut adalah solusi yang tepat ditempuh warga desa Jungutbatu untuk budi daya rumput laut. Tak hanya sumber rejeki mereka peroleh juga turut serta menjaga lingkungan. (Nila)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar