Jumat, 20 Agustus 2010


UTAMA MENJAGA KESIMBANGAN
Oleh : Nila Pertina Dewi

Tap…tap…sejauh kaki melangkah… di desa kecil ujung Timur Bali. Menyambut kita eapa sadarnya masyarakat Desa ini dengan lingkungan. sar. namun iannya terhadap lingkungan.ehidupan warganya menjadi aktual daldalam keadaan menakjubkan…betapa sadarnya masyarakat desa ini dengan lingkungan.
Bali dikenal dengan keunikan budaya yang bernafaskan Agama Hindu. Desa Tenganan Pegringsingan  catatan dari ujung Timur Bali yang kental dengan budayanya. Desa Bali Aga yang menggunakan pola hidup tradisionalnya dengan aturan tradisi yang terbilang ‘ketat’. Data yang dikutip dari www.erhanana.wordpress.com bahwa 917 ha wilayahnya, 66,41 persen tanah di Tenganan Pegringsingan merupakan tanah tegalan yang sekaligus berfungsi sebagai hutan, 25,73 persen lahan persawahan, dan 7,86 persen merupakan wilayah pemukiman. Itu semua diatur dalam awig-awig (aturan) desa  tersebut. Walaupun tanah tersebut atas nama individu atau pun kelompok tidak boleh menjual atau menggadaikan tanah kepada orang luar. Tak heran wilayah Tenganan Pegringsingan sejak abad ke-11 hingga sekarang tetap sama. Hutannya pun masih tetap lestari.
Tak hanya mengatur luas wilayah Tenganan juga menyentuh tradisi budaya tenun gringsing dan perang pandan. Yang pada dasarnya itu wujud dari keharmonisan alam.  Kain gringsing pun sengaja dibuat  bermotif membentuk tanda tambah menggambarkan filosofi hidup orang Tenganan, yaitu ‘keseimbangan’. Juga dengan adanya awig-awig, keberadaan hutan di sekitar desa adat sudah dijaga jauh sebelum kesadaran masyarakat terhadap lingkungan disentak oleh isu Global Warming. Ketika demam perubahan iklim melanda masyarakat Indonesia dengan aksi tanam sejuta pohon, masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali, ternyata sudah mengatur konservasi lingkungannya.
Desa yang memiliki tradisi turun-temurun perang pandan atau yang lebih dikenal mageret pandan ini, memiliki kepercayaan untuk melindungi beberapa tanaman yang terdapat di sana. Tanaman itu durian, tehep, pangi, dan kemiri. Hal itu mendarah daging di diri setiap masyarakat. Mereka percaya tanaman tersebut tidak boleh diambil buahnya apalagi ditebang. Jika melanggar hal buruk melanda desa itu. Buah dari tanaman ‘terlarang’ tersebut hanya dapat dinikmati bila sudah jatuh dari pohonnya.
Budaya Tenganan menjaga hutan bahwa mereka bagian dari alam. Tak hanya dikenal dengan sebutan ‘pecinta lingkungan’ tapi lebih tepat karena mereka ‘patuh’ dengan awig-awig yang turun-temurun dari para penglingsir (tetua) mereka.  
Ketika orang luar ingin melihat ‘kebudayaan’ Tenganan Pegringsingan, hal itu dapat dilihat dalam hidup keseharian masyarakatnya. Karena kebudayaan merupakan sebuah proses, bukan barang antik yang harus dimuseumkan. Mereka telah mempertahankan hutan dari ‘jubah’ hutan yang terkikis di Indonesia. Menyumbang pasokan oksigen di tengah Global Warming. Secara prinsip mereka sadar bahwa budaya yang dilakukan dan dipertahankan mempunyai tujuan akhir untuk keberlanjutan hidup. (Nil)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar